Dicintai miliaran manusia di dunia, mustahil sepak bola tidak memiliki dampak.  Saya berani mengatakan bahwa prinsip-prinsip lapangan hijau ternyata berdampak pada insan-insan di luar lapangan hijau seperti saya.  Bahkan hingga merambah pada ilmu kepemimpinan.  Nggak percaya?  Mari kita simak.

          Kita akan belajar dari sosok pemimpin di lapangan hijau berikut ini.  Siapa dia, akan Anda kenali di akhir tulisan.  Beliau mengatakan, “Saya berniat memberikan yang terbaik dalam diri saya, untuk  memperbaiki berbagai hal dan menciptakan sebuah tim sepak bola di dalam kaitannya dengan imej saya dan filosofi sepak bola saya.”  Dari kalimatnya ini terlihat bahwa ia memiliki niat tinggi untuk memberikan yang terbaik, melihat apa yang harus diperbaiki, dan memiliki rencana jangka panjang untuk membangun sebuah tim.  Ia memerhatikan dirinya sendiri, bahwa imej-nya sebagai seorang pelatih tidak dihancurkan dengan persiapan yang seadanya; dan ia memiliki filsafat sepak bola!

morinho back

          Sementara begitu banyak orang tidak suka segala sesuatu yang berbau filsafat, ia justru menyatakan bahwa sebuah pekerjaan itu gagal atau berhasil adalah karena filsafat di baliknya.  Sepak bola harus mengenal filsafat, sehingga para penonton bukan hanya disuguhkan oleh sebuah permainan, tetapi sebuah pembelajaran, bahkan pencerahan pikiran karena filsafat ada di dalamnya.

          Salah seorang mantan anak buahnya mengatakan bahwa ia, “. . .tidak memilih pemain, ia memilih orang yang siap beradaptasi dengan filosofi sepak bolanya—orang-orang ini tak mesti pemain terbaik di dunia.”  Dan ini terbukti!  Kesalahan utama seorang pemimpin adalah: tidak memimpin.  Memiliki posisi sebagai pemimpin, tetapi tidak memimpin, tidak memilih orang yang tepat, dan tidak memiliki filosofi kepemimpinan yang kuat.

           Maka sebagai pemimpin, “Semua harus merasakan ambisi yang sama. Tim yang menjadi bintang, bukan pemain.  Jika Anda tidak bisa mengkomunikasikan ambisi pada para pemain, Anda tak akan bisa membawa filosofi Anda pada mereka, pada tim.  Kami punya pemain dari 13 negara berbeda; beda budaya, beda bahasa, namun kami tetap punya komunikasi spesial melalui sepak bola.”  Pemimpin adalah mereka yang mampu berkomunikasi yang fungsinya lebih kepada transfer visi atau ambisi tim.  Ia harus menjabarkannya dengan jelas sehingga seluruh anggota berjuang di dalam kesamaan visi. Pemimpin adalah seorang komunikator yang handal untuk menyampaikan visi bersama, walau dihuni oleh beragam budaya bahkan  bangsa.  Tetapi  karena mereka memiliki visi bersama dan satu bahasa, yaitu bahasa sepak bola, maka segalanya lebih mudah walau tidak enteng.

          Di dalam mengembangkan filosofi kerja, ia juga mengatakan, “Ciptakanlah filsafat Anda sendiri.  Tentunya ini bisa dipelajari dari para pelatih.  Dengarkanlah, dapatkan informasi itu, namun aku ingatkan, jangan meniru semuanya.  Ambilah beberapa yang baik, lalu kreasikanlah filosofi Anda sendiri.  Kehebatan para pemain bukan karena mereka bekerjasama denganku, tapi karena mereka merealisasikan prinsip-prinsip tadi.  Itulah esensi sepak bola.”  Esensi sepak bola adalah memberdayakan, bukan memperdayakan manusia. Mengkreasikan filosofinya sendiri sesuai dengan apa yang dipercayakan Tuhan baginya.

            Terakhir, filosofi harus berdampak.  Perhatikan surat yang ia tulis kepada calon anak buahnya untuk menekankan filosofi manajemennya, “Selamat datang di Porto.  Berharap Anda telah mengisi ulang motivasi Anda dan ambisi. . . dari sini, setiap latihan, setiap pertandingan, setiap menit dari kehidupan sosial Anda harus berpusat pada satu tujuan untuk menjadi juara. . . Tim pemula bukanlah kata yang tepat.  Saya butuh kalian semua. Anda saling membutuhkan.  Kita adalah TIM.”   Ia menebarkan seruan untuk memelihara motivasi dan ambisi, fokus kepada visi bersama, dan menyadarkan mereka  bahwa kesatuan fokus itu mengorbankan kehidupan sosial mereka.  Porto bukan tim yang fantastis saat itu, apalagi mimpi untuk meraih piala Champions, tetapi suntikan kalimat yang tepat dan terarah, membuat semangat terlecut.  Maka perlu ada di benak mereka bahwa mereka bukan tim pemula, tetapi tim juara.

Namun ada satu rahasia lagi dalam surat itu.  Di bagian bawah surat ia memberikan satu kutipan: “Motivasi + Ambisi + Tim + Spirit = SUKSES”  Dengan prinsip kepemimpian dan filosofi hidup seperti ini, tidakkah terlihat bahwa dampak sepak bola bagi peradaban manusia bukan sekadar 22 orang iseng yang tendang-tendang si kulit bundar, bukan?

morinho

Anda tahu apa dampak kalimat dan rumusan di atas?  Dampaknya adalah : Piala Portugal, Super Cup, 2 kali juara Liga Portugal, Piala UEFA 2003 dan Piala Champions 2004.  Prinsip-prinsip serupa itu pula yang diterapkannya di Chelsea dan saat ia mendapat treble winner di Inter Milan, di Madrid juga saat kembali ke Chelsea.  Walau terkadang “gila” tetapi cara Jose Mourinho memotivasi anak buahnya dapat membangkitkan spirit juang anak buahnya.

Untuk lengkapnya baca: Gheeto Tw, The Mou Way (Libri, 2012)

 

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.