Siapa pun, termasuk seorang pemain sepak bola pasti akan mengalami tekanan di dalam setiap pertandingan yang ia jalani.  Apa akibatnya jika seorang pemain tertekan?  Tekanan akan memengaruhi performance, penampilan seorang pemain sehingga bermain dengan tegang, sehingga rawan emosi destruktif bahkan rawan cedera seperti cedera otot.

england-portugal-frank-lampard-sad

Apa sumber tekanan pada seorang pemain?  Sumber  tekanan atau stress dapat dimunculkan oleh media yang terlalu mengekspos seorang pemain atau gosip yang meruntuhkan mental.  Dapat pula terjadi karena fans, terutama fans yang cenderung negatif, menuntut seorang pemain terlalu tinggi.  Stress juga dapat terjadi karena jadwal padat dan melelahkan.  Tekanan juga dapat terjadi karena seorang pemain dan sebuah tim harus sering  melakukan perpindahan lokasi pertandingan (tandang dan kandang).  Belum lagi tekanan untuk memeroleh piala, sehingga menghasilkan stres dan kegelisahan.  Bukan hanya pemain baru, bahkan pemain pengalaman pun bisa mengalami stres di awal musim.  Jika semua ini tidak bisa dikendalikan, maka tidak heran jika tiba-tiba performa mereka jeblok.

Dari sini kita dapat melihat bahwa stres bisa muncul dari apa pun, termasuk yang berkaitan dengan kebugaran, seperti sakit, kekurangan nutrisi, maupun aturan permainan yang berkaitan dengan aturan permainan seperti aturan yang tidak jelas, skorsing, dan sebagainya.

Reaksi dari stres dapat berupa agresivitas, kemarahan atau kebalikannya, terlalu menahan diri, kemunduran dan ketakutan.  Stres membuat seorang pemain berisiko amat tinggi terhadap  cedera, membuat level permainan mereka berantakan.  Tiap pertandingan adalah sumber stres tersendiri.  Menurut peneliti Kanada, stres adalah “Respon secara fisio-psikologis pada seseorang pada semua pengaruh yang memengaruhi keseimbangan kesadaran dirinya.”  Karena itu, ada kaitan antara fisik dan psikologis seorang pemain.  Ini tergantung pada kemampuan mereka untuk menangani stres.

Untuk menangani stres, para psikolog olah raga mengatasi hal ini dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang didesain, dan mengukur detak jantung untuk melihat level dari stres.  Atau dengan mengukur fight-flight reaction (rekasi bertarung-menghindar) yang merupakan cara tubuh bereaksi terhadap stres.  Ini  adalah respon tubuh untuk bereaksi melalui percepatan detak jantung dan kecepatan nafas dan perkembangan adrenalin.

Stres dapat memunculkan kesedihan mencakup perasaan ketakutan pada tantangan yang dihadapinya.  Gejalanya adalah: mual, kehilangan ketenangan, penurunan koordinasi motorik dan agresif.

Pendorong stres yang potensial adalah meningginya temperatur tubuh/ kelembaban. Kondisi seperti ini dapat terjadi di pagi hari, saat jet lag, dalam suasana permainan, di dalam stadion saat melihat penonton, dan sebagainya.  Puncaknya, stres dapat menghasilkan perlawanan, baik terhadap rekan satu tim, bahkan pelatih.  Kemampuan mengatasinya tergantung pada pengalaman pemain menguasai diri.

Kalau rileks walau menegangkan, bisa memutuskan dengan lebih baik.  Seorang pemain yang over anxiety, sering memutuskan dengan salah.  Mereka termotivasi ketika menyadari bahwa mereka mampu mengontrol kesedihan mereka dan bebas bermain di performa tertinggi mereka.

Pelatih harus mendiagnosis kondisi ini; over anxious, ini susah karena banyak hal berbeda yang harus dilakukan.  Tanda-tandanya seperti kemarahan atau kehilangan keyakinan, kemunduran skill, mengisolasi diri, agresif dan menyalahkan orang lain untuk masalah mereka.

Relaksasi

Itulah sebabnya mengapa semua pemain perlu melakukan relaksasi.  Seorang ahli Bill Beswick mengatakan, bahwa seorang pemain harus memiliki sikap relaxed readiness, yaitu kesiapan untuk rileks. Seorang pemain harus mampu mengerahkan energi tanpa tensi tinggi, bersikap rileks.

Sebenarnya tidak ada teknik relaksasi yang terbaik, semua pemain harus melakukan beragam relaksasi.  Banyak pemain yang melakukan PMR (Progressive Muscle Relaxation) yang intinya membiarkan pemain membedakan antara tensi dan relaksasi.  Misalnya berbaring dengan nyaman, menutup mata, bernafas dengan enak, relaksasi otot dengan perilaku pasif; tidak melakukan apa apa.  Karena kegunaan dari relaksasi sangat banyak, seperti menormalkan detak jantung, tekanan darah, dan metabolisme tubuh.

Apa yang terjadi di lapangan sungguh tidak dapat diduga.  Salah satunya adalah bahwa seorang pemain bisa mengalami kesedihan yang muncul tiba-tiba saat pertandingan, terutama saat melakukan kesalahan.  Untuk hal ini, Bill Beswick memberikan tips:

1.       Kontrol nafas

2.       Tentramkan tensi/ tegangan tubuh

3.       Berbicara pada diri sendiri

4.       Biarkan ketakutan/ kegelisahan pergi

5.       Lihat kembali tujuan anda dan sadari kembali pencapaian bersama

Walau demikian, ada beberapa pemain yang tidak membutuhkan relaksasi.  Biasanya mereka sudah cukup tenang saat memiliki pengetahuan mengenai pertandingan, sehingga ia dapat menganalisis dan tenang dengan  informasi mengenai lawan,  atau tugas-tugas

 yang harus ia kerjakan.

http://www.soccerperformance.org/specialtopics/stresanxirelax.htm

 

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.