ronaldo-aceh
              Sepak bola ternyata dan seharusnya memang tidak hanya berkaitan dengan olah raga, tetapi mengenai respek terhadap manusia.  Itulah sebabnya mengapa akan menjadi berita yang mengharukan ketika seorang pemain atau sebuah klub tidak hanya memerhatikan masalah di lapangan hijau, tetapi juga di lapangan kehidupan.  Seperti yang dilakukan oleh pesepak bola Andik Vermansyah  ketika mengunjungi anak penderita tumor otak di RSUD Dr Soetomo Surabaya, M. Ilham  yang saat itu masih berusia 12 tahun, bocah penderita tumor otak.  Saat itu, selain memberikan jersey Timnas plus tandatangannya, Andik juga memberikan bantuan dana ke keluarga Ilham.  Dana itu adalah bonus yang ia dapat saat Persebaya mengalahkan Bontang FC, 1-0 beberapa waktu sebelumnya.  Ketepatan pula, Ilham mengidolakan Andik.
            Pula yang dilakukan oleh Messi. Seorang bocah  berusia 12 tahun yang bernama   beruntung karena dapat menerima langsung bantuan dari megabintang asal klub Barcelona itu.  Karena Kashash menderita penyakit yang dulunya juga pernah menghinggapi tubuh Messi.  Mengetahui ada orang lain yang bernasib sama dengannya, Messi pun dikabarkan telah memberikan bantuan kepada anak tersebut.  Messi bersedia untuk menanggung biaya medis Kashash sampai ia sembuh dari penyakitnya.Sebagai sesama penderita penyakit Growth Hormone Deficiency (GHD) yang membuat pertumbuhan seorang anak menjadi tidak maksimal dan cenderung memerlambat kinerja hormon yang ada pada tubuh si penderita, Messi ikut merasakan kesakitan Kashas.  Apalagi ia juga punya mimpi untuk dapat berkarier di dunia sepak bola, tetapi biaya perawatan yang mahal membuat harapannya sirna.  Akhirnya, melalui seorang wanita bernama Soad Al-Affani, Messi langsung memberikan respon positif untuk mau membantu Kashash.  Messi bersedia untuk menanggung biaya perawatan Kashash sebesar 3000 Dirham atau setara dengan 208 Euro setiap 15 hari sampai sang anak berusia 18 tahun.  Selain itu, Messi juga memberikan dukungan moral dengan memberikan fotonya ketika memegang kaos Kashash yang disertai dengan tulisan tangan Messi.  Pada tulisan itu Messi mengatakan jika Kashash harus selalu kuat dan banyak orang yang mengasihinya.
Messi dengan kaus ucapan untuk Walled Kashash
             Di Italia, klub Udinese bersedia menanggung biaya hidup adik Piermario Morosini yang meninggal di lapangan saat memperkuat Livorno dalam pertandingan Seri B akibat serangan jantung.  Gelandang berusia 25 itu merupakan pemain Udinese yang kemudian dipinjamkan ke Livorno sejak Januari lalu.  Perjalanan hidup Morosini memang penuh kepahitan.  Dia ditinggalkan kedua orang tuanya saat masih berusia 18.  Kepedihannya makin mendalam karena kakaknya yang disabel memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.  Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah adik perempuannya.Hanya, adiknya sakit-sakitan dan kehidupannya bergantung kepada Morosini.  Karena tidak ada keluarga yang menopang hidupnya, Udinese memutuskan menyantuni adik Morosini.  Tidak hanya klub, striker Antonio Di Natale pun ikut menanggung biaya hidupnya.  “Dia pemain yang istimewa.  Meski menghadapi banyak masalah, dia berusaha untuk tetap fokus pada tim.  Setiap hari, dia selalu memotivasi kami.  Dia ingin meraih sukses untuk dirinya, keluarga yang tidak dipunyainya lagi dan untuk adiknya,” kata Di Natale. “Saya kehilangan ibu saya empat tahun lalu.  Tapi dia sudah lama mengalaminya.  Saya dekat dengan dia.  Karena itu menyaksikan tayangan lewat televisi sungguh memilukan.  Dia terlihat ingin bangkit tapi jatuh lagi.  Saat melihatnya, Anda hanya bisa berdoa pada Tuhan,” ujar Di Natale lagi.
AC Chievo Verona v Udinese Calcio  - Serie A
           Dalam mendukung sisi ekonomi suatu negara, seorang pemain legendaris asal kota Milan, Javier  Zanetti membuat suatu yayasan yang disebut PUPI.  Nama ini diambil dari nama julukan untuk dirinya.  Dalam situs resmi Inter dikatakan, “Kapten Javier Zanetti mendapat penghargaan dalam upacara yang dihadiri oleh semua anggota keluarganya, teman-temannya, dan anak-anak yang tergabung dalam Pupi Foundation.  “Sebagai pemain bola, Zanetti memang memiliki kesadaran sosial tinggi.  Menanggapi krisis ekonomi Argentina pada 2001 yang membuat jutaan orang jatuh dalam jurang kemiskinan, Zanetti bersama istrinya Paula membentuk yayasan Pupi (Fundación PUPI – PUPI Foundation) yang tujuannya adalah untuk membantu anak-anak miskin.  Organisasi ini memberi anak-anak kesempatan pendidikan serta mengurus kebutuhan gizi mereka.
         Sedangkan klub Inter sendiri membentuk apa yang dinamakan Inter Campus, sebuah proyek sosial non-profit yang didirikan dan dijalankan oleh klub atas prakarsa presiden klub Massimo Moratti sejak tanggal 20 Februari 1996, dengan tujuan untuk memberikan bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan dengan bantuan program sepak bola pemuda dikembangkan dan dipertahankan dalam masyarakat.  Data hingga tahun 2010 menyebutkan, Inter Campus telah aktif di 22 negara di luar Italia, mempekerjakan 200 staf dan melayani hampir 10.000 anak.
intercampus_394919
          Kalau daftar ini masih mau ditambah, masih banyak lagi kisah yang bisa diceritakan.  Namun dari sini saja kita melihat bahwa sepak bola selayaknya memang bukan perkara di lapangan semata.  Tujuan tulisan ini adalah jika kita terlibat dalam sepak bola baik sebagai pemain, pelatih  atau orang di belakang layar, tempatkan sisi kemanusiaan lebih tinggi dari taktik dan skill di lapangan.  Bukan untuk mengumpulkan “skor jasa” lalu tenggelam di dalam bangga,  tetapi sebagai wujud syukur pada Pencipta, berbagi hidup dengan sesama dari apa yang telah dikaruniakan-Nya.
≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.