HughesPenggemar sepak bola masa kini mungkin banyak yang sudah lupa mengenai sejarah hidup Mark Hughes.  Pria kelahiran 1 November 1963 ini memang sangat dikenal saat membela Manchester United di tim junior (1978-1980) dan masuk ke tim senior (1980-1986 dan 1988-1995), dan juga pernah bermain untuk Chelsea (1995-1998) berikutnya adalah Southampton, Everton dan Blackburn Rovers.  Kemudian sebagai pelatih ia pernah melatih beberapa tim seperti timnas Wals, Blackburn Rovers, Manchester City, Fulham, Qeens Park Rangers dan Stoke City.

Namun sebagai pemain, ternyata ia juga pernah bermain di luar Inggris, yaitu saat membela Barcelona (1986-1988).  Namun karirnya yang paling singkat adalah ketika membela Bayern Munich dalam status pinjaman (1987-1988).  Walau singkat, namun pengalamannnya bersama Bayern ternyata sangat berarti bagi Hughes.  Tim kebanggaan warga Munich itu ternyata memerlakukan pemain sedemikian rupa.  Suatu perlakuan yang sudah menjadi tradisi, sehingga kita dapat melihat bahwa konsistensi Munich, dari banyak faktor yang mereka miliki, salah satunya adalah bagaimana mereka memerlakukan para pemainnya. Bahkan pada Hughes yang “hanya” pemain pinjaman saat itu.

Walau hanya bermain sebentar saja, namun Hughes yang saat bersama Bayern berada dalam asuhan Jupp Heynckes, membuka beberapa rahasia bagaimana cara klub sebesar Bayern memperlakukan para pemainnya.  Apa saja itu?

  1. Tetap menjaga orang-orang kunci yang sangat berpengaruh di posisinya.  Itulah yang membuat sukses berkesinambungan bagi sebuah tim.  Manajernya tidak main bongkar pasang, menjaga para staf untuk bekerja konstan dalam posisinya masing-masing adalah hal yang krusial.  Bagaimana cara memotivasi para staf tersebut sehingga tetap berada di sana?  Prinsipnya adalah bahwa setiap anggota staf diharapkan untuk berbuat lebih dan mereka merupakan pionir, bukan hanya bagi Jerman, tetapi juga untuk seluruh dunia.  Dari pelatih Jupp Heynckes saat itu Hughes belajar mengenai klub profesional berkelas dari klub utama Jerman.
  2. Bayern memanusiakan para pemainnya.  Misalnya seperti yang dilakukan oleh Jurgen Klinsmann pada era 2007, saat membuat training centre baru di Sabenerstrasse. Klinnsmann membawa timnya fasilitas yang menyenangkan, misalnya dengan menyediakan cafe di sana, ruang keluarga dan fasilitas pendidikan, juga menghargai setiap kepercayaan atlit walau banyak di antara mereka memiliki kepercayaan Katolik Roma.
  3. Hughes mengatakan bahwa banyak tim mencoba mengeluarkan jutaan dolar untuk meniru Bayern.  “Saya sudah bermain bersama Manchester United dan Barcelona, tetapi Bayern Munich adalah sesuatu yang berbeda.”
  4. Mengenai kebugaran, Hughes mengatakan, “Ketika saya berjalan keluar dari tempat latihan, setiap akhir hari ada banyak kotak vitamin yang disediakan dan juga botol-botol kecil berisi suplemen.  “Saya memang tidak mengalami masalah fisik yang besar karena saya tidak banyak bermain untuk Barcelona, tetapi saya melihat keuntungan dari cara pendekatan Bayern yang membuat saya bugar dengan cepat.” Suplemen-suplemen itu membuat Bayern saat itu memeroleh banyak kemenangan, bahkan sukses pula di dalam pemasaran klub padahal semua itu berawal dari penanganan pribadi dalam diri masing-masing pemain.  Itulah etos yang terus menerus berjalan, sebuah penghargaan bagi profesionalisme.
  5. Mengenai penanganan secara pribadi, Hughes mengatakan, “Ada sentuhan kecil, sesuatu yang mungkin hanya pesepakbola yang dapat mengerti betapa pentingnya hal ini.  Ketika saya bergabung bersama Bayern, salah seorang anggota staf, Elizabeth, menanyakan kapan istri saya akan pindah ke Munich karena anak kami Alex baru saja lahir. . . ketika waktunya pesawat mendarat ketika saya menjemput istri saya, general manajer Uli Hoeness dan Elizabeth ada di sana untuk menyambut istri saya dengan sebuah rangkaian bunga yang besar. . . Itu adalah hal yang sangat sederhana, tetapi berdampak sangat besar dan luar biasa mengesankan.”
  6. Mengenai staf teknik, Hughes terkesima dengan bagaimana standarisasi klub mengenai hal ini.  Dokter klub, Hans Muller-Wohlfahrt menjadi dokter di era Hughes, dan terus menerus menjadi dokter klub bertahun-tahun kemudian.  Walau ada beberapa penanganan yang kontroversial, Wolfhart konsisten di dalam karirnya, sehingga karirnya terkenal di seluruh dunia.  Dokter yang juga pernah menangani pelari tercepat dunia, Usain Bolt, Michael Owen, Gerrard serta Giorgio Chiellini dan Ronaldo ini telah memberikan pengaruh yang sangat luas sepanjang karirnya.  Bahkan ia juga dipercaya sebagai dokter timnas Jerman.
  7. Terbaik di segala area.  Hal yang patut dipelajari adalah sebagaimana dikatakan Hughes, “Mereka memiliki orang-orang terbaik mereka di lapangan, di setiap posisi dalam sentra performa, itulah sebabnya mereka sangat sukses,” menurut Hughes.  Lalu ia membandingkan dengan City di mana ia pernah melatih, “Inilah yang menginspirasi City, tetapi Anda tidak dapat membeli pengalaman dan keahlian seperti itu.  Bayern telah berpengalaman dibandingkan dengan klub-klub lain karena mereka telah melakukan hal seperti ini bertahun-tahun, mulai dari hal yang sederhana hingga perencanaan yang besar. . . Mereka luar biasa sukses dan inilah sumber daya Bayern yang terus mereka pertahankan.”

(Dimodifikasi dari – http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2041785/Mark-Hughes-reveals-science-Bayern-Munichs-success.html)

Hughes 2

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.