Ketika Michel Bruyninckx, pelatih asal Belgia berlisensi UEFA A dan direktur dari Standar Liège Academy ditanyakan mengenai apa yang salah terhadap pelatihan sepak bola zaman sekarang, jawabannya mengejutkan.  Ia berkata, “Kita harus berhenti berpikir bahwa sepak bola adalah hanya mengenai tubuh saja.  Keterampilan akan bertumbuh jika kita memiliki pengertian yang lebih baik mengenai mentalitas dalam membangun seorang pemain.”  Hal ini terjadi karena ia melihat bahwa seorang pemain harus selalu siaga di dalam pemikirannya, mengembangkan persepsi, penguasaan waktu dan ruang yang dikombinasikan dengan fungsi motorik yang mumpuni.  Bukan sekadar menggiring bola melewati cones, tetapi ini juga perkara “Brain centered learning” (Pemusatan latihan otak).

Bahkan Torbjörn Vestberg dari Department of Clinical Neuroscience, Karolinska Institutet Stockholm, Stockholm, Swedia menyebutkan bahwa sepak bola merupakan Game of Intelligence in Sports (Permainan kecerdasan dalam olah raga).  Sebuah sebutan yang tidak main-main.  Dalam penelitian bersama rekan-rekannya, seorang pemain sepak bola harus menggunakan kecerdasannya.

Michel-Bruyninckx

Michel Bruyninckx

Untuk memahaminya, ada 3 komponen yang berkaitan dengan pembelajaran yang berdasarkan otak (Brain Based) menurut Bruyninckx:

  1. Bahwa seorang pemain harus benar-benar larut di dalam pengalaman belajar, sehingga mereka dapat sepenuhnya belajar dari apa yang mereka alami.
  2. Walau demikian, segala pembelajaran itu harus dipelajari secara rileks, meski pelatih membuat  suasana yang menantang mereka untuk berjuang.  Memberikan tantangan bukan membuat mereka stress dan takut melakukan kesalahan.
  3. Melatih mereka untuk memproses informasi secara aktif.  Karena itu pelatih perlu memberikan informasi atau pembelajaran dalam berbagai cara.  Pelatih perlu banyak belajar bagaimana menanamkan instruksi yang yang dapat masuk hingga ke urat syaraf pemain sehingga mereka menanam instruksi dengan kuat.  Biarkan mereka menggabungkan dan menjiwai pemahaman-pemahaman baru.

Pelatihan “Dari leher ke atas,” maksudnya melatih cara berpikir mereka ini, berbeda dengan cara tradisional yang hanya menekankan pada teknik, kemampuan dan kebugaran saja. Sering kali otak malah menjadi paling akhir, bahkan acap kali malah tidak diperhatikan sama sekali.

Seorang pelatih berlisensi A, Kevin McGreskin mengatakan, “Saya pikir para pelatih sering melupakan, atau tidak menyadari bahwa sepak bola sesungguhnya adalah olah raga kognitif. . . Kita harus membangun otak pemain sebagaimana juga tubuhnya, tetapi pasti akan sangat terlihat perbedaan ketika kita mendahulukan antara melatih fisik pemain atau

mendahulukan kognitif mereka.”

Di Standard Liège Facility, di luar kota Brussels, Bruyninckx melatih sekitar 68 pemain yang berusia antara 12 dan 19 tahun di liga utama dan divisi kedua Belgia.  Apakah metodenya efektif atau tidak apat dilihat dari angka, bahwa 25% dari sekitar 100 pemain yang ia latih bermain di sepak bola profesional.  Jika dibandingkan dengan Professional Footballers’ Association dari 600 anak yang bergabung dengan klub profesional sejak usia 16 tahun, 500 anak sudah tidak bermain bola lagi di usia 21 tahun.

Taktiknya dalam melatih anak-anak itu adalah mendorong pikiran mereka untuk terus menerus diberikan multitask (beberapa kegiatan) sehingga ketika bertanding mereka sudah terbiasa mengambil keputusan cepat saat bermain.  “Anda harus menghadirkan aktivitas baru kepada para pemain yang biasanya tidak pernah mereka lakukan.  Jika Anda mengulang-ulang latihan terlalu banyak, otak akan berpikir ‘sudah tahu.’”  Tetapi, lanjut Bruyninckx, “Dengan terus menerus menantang otak untuk memanfaatkan keluwesannya, Anda akan menemukan semacam perasaan tidak pernah selesai.  Sekali otak menerima tantangan yang Anda buat itu, maka otak dengan segera akan membuat koneksi-koneksi baru dan hasilnya luar biasa.”

Ukuran keberhasilannya adalah dengan menekankan hal ini hampir di semua laihan.  Sepak bola adalah mengenai perubahan arah pandang yang terus menerus, sehingga membutuhkan analisis yang cepat sehingga dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang datang mendekat. Menemukan cara melihat setiap sudut pandang itu berasal dari latihan, karena saat bertanding, sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan analisis.  Semua berjalan dengan sangat cepat saat bertanding.  Jika tidak terlatih menganalisis dan mengambil keputusan cepat, maka kekalahan sudah di depan mata.

“Sepak bola adalah permainan yang membutuhkan pelatihan untuk membuat persepsi – baik konsentrasi satu arah maupun konsentrasi yang terbelah.  Jika pemain hanya memperhatikan satu arah saja, maka ia akan kehilangan bola.  Jika sebuah tim terus menerus bermain bola dengan memerhatikan segala arah dalam kecepatan tinggi, sangat mungkin ia akan memiliki bola lebih banyak.  Kalau irama bermain tinggi, lawan tidak dapat memenangkan pertandingan.”

Tentu saja tidak semua setuju dengan  metode Bruyninckx, walau demikian banyak pula yang menyetujuinya.  Seorang pelatih tenis, Pete McCraw mengatakan, “Metode Michel dan filosofinya telah membangun pengertian apa yang membuat individu kelas dunia baik di dalam atau di luar lapangan, yaitu otak.”  Lebih lanjut, McCraw mengatakan, “Metodenya telah menerobos cara-cara tradisional dalam pengembangan atlit.  Ia adalah pionir, bahkan metodenya dapat diaplikasikan ke banyak disiplin cabang olah raga lainnya.”

senseball

senseball

Dalam menerapkan metodenya, Bruyninckx menghitung berapa kali pemain harus menyentuh bola, membawa bola dengan cara-cara tertentu.  Ia menentukan, minimun, seorang pemain harus menyentuh bola sebanyak 500 ribu kali per musim.  Pemain yang pernah merasakan di bawah pelatihannya adalah Dries Mertens (PSV Eindhoven) dan Steve Defour (FC Porto).  Di tahun 2012 ia menjadi direktur dari Standard de Liège Youth Academy dan pada 2013, ia adalah wakil direktur dari Aspire Academy (Qatar) yang menggunakan metode temuannya.  Bruyninckx juga mengembangkan suatu alat untuk berlatih yang disebut senseball.

Sumber:

http://www.axonpotential.com/teaching-your-brain-how-to-play-soccer/

http://en.wikipedia.org/wiki/Michel_Bruyninckx

“Senseball.”  Sumber:  http://www.cogitraining.com/en/the_senseball_practice/introduction

 

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.