Hebat, euy. . . Tidak disangka, ternyata bangsa ini punya juga prestasi di kancah dunia, khususnya di Piala Dunia.  Ketika bangsa ini tidak bisa meloloskan satu pun pemain ke tingkat dunia, ketika tidak ada pelatih negeri ini yang jadi pelatih timnas tingkat dunia, ternyata kita pernah punya peluang untuk mencuatkan nama negeri ini di tingkat internasional, walau tidak begitu terlihat.Irwan Suryanto, presdir PT Sinjaraga Santika Sport

Adalah seseorang yang bergerak di bidang usaha, yang mungkin tidak setenar Donald Trump, tetapi karyanya mendunia.  Ia termasuk salah satu tokoh yang dicatat dalam buku 50 Usahawan Tahan Banting (Millennium Publisher, 2000).  Dia adalah H. Irwan Suryanto, presdir PT Sinjaraga Santika Sport.  Melalui sebuah misi dagang di Belanda, ternyata ia berhasil ambil bagian di kancah babak final Piala Dunia Prancis 1998!  Bukan sebagai pemain atau wasit, tetapi sebagai pemasok bola.  Ternyata, bola yang disepak-sepak oleh kaki-kaki pemain dunia seperti Zidane itu, berasal dari Majalengka, Jawa Barat.  Bola sepak merek Triple S buatannya berhasil merambah kawasan Eropa hingga Amerika Latin.  Sederet penghargaan dan akreditasi mutu nasional maupun internasional, seperti ISO 9001-2000 dan SNI 19001-2001, ia raih hingga membuatnya makin mantap memasarkan produknya ke mancanegara.

Pada 1994, Irwan memulai usahanya bersama sebuah pabrik bola asal Korea Selatan. Awalnya usaha ini berjalan lancar hingga akhirnya muncul masalah yang membuat bisnisnya mengalami kerugian.  Dana kredit pinjaman bank sebesar Rp 350 juta saat itu ludes dan ia mengalami kesulitan dana.  Kondisi menurun terus terjadi pada 1996.  Meskipun telah disuntik dana, ia masih rugi hingga Rp 200 juta.  Akhirnya, ia terpaksa memutuskan hubungan bisnis dengan pabrik asal Korea Selatan tersebut.  “Waktu itu saya bingung harus menggaji karyawan dengan memakai apa.”

Kemudian Irwan melanjutkan usahanya.  Ia menjajakan bola buatannya dengan menggunakan becak berkeliling ke beberapa tempat di Majalengka dan wilayah Jawa Barat lainnya, demi menghidupi sekitar 20 orang karyawannya.  Sementara itu, ia rajin mengikuti pameran dan pelatihan manajemen yang diselenggarakan oleh pemerintah.  Berbekal itu bisnisnya mulai membuahkan hasil dan pada 1998 bisnisnya meroket hingga 300 persen. Bahkan, pada Piala Dunia di Prancis 1998 bola sepak karyanya telah dipesan sebanyak 10 ribu buah.  Tiba-tiba saja Irwan menjadi sumber berita sejumlah stasiun televisi beberapa negara, seperti Malaysia, Jepang, dan Indonesia sendiri.  “Ini promosi gratis, soalnya TV3 (Malaysia) sampai NHK (Jepang) menemui saya,” katanya bangga.

Sayangnya, di negerinya Pak Irwan sendiri, produknya malah dipandang sebelah mata. Misalnya, kebutuhan bola sepak untuk sekolah-sekolah di  negeri ini justru dipasok oleh produsen luar negeri.  Padahal, kalau diusut-usut, bola yang dipasok dari luar itu sebagiannya, ternyata buah tangan perajin bola asuhan pak Irwan, yang dipesan oleh produsen luar, lalu diekspor ke Indonesia dengan merek asing!

Hebatnya lagi, produk bola sepak asal Kadipaten itu telah memperoleh CE Mark, setelah lolos uji, dari Merchandise Testing Lab. (HK) dan Instituto Italiano Sicurezza Dei Giocattoli, sebagai persyaratan untuk bisa dipakai dalam Piala Dunia 1998 di Prancis.  Selain itu juga sudah diterima di kalangan dunia sepak bola di AS, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea. (Republika Online).

Ada juga yang dibanggakan dari negeri ini.

Entah bagaimana caranya, tetapi ada tugas berat menanti untuk membuka mata dunia, kalau Indonesia bukan cuma gudangnya koruptor, atau gudang kemiskinan.  Rasanya perlu punya rasa prihatin melihat bangsa ini.  Bukan hanya dengan meratapi diri, tetapi dengan berbuat sesuatu.  Pelan-pelan tapi pasti, walau kemajuan itu mulai terjadi saat kita nanti sudah mati.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.