~ Soal Memaksimalkan Kemampuan ~

 Saya semakin penasaran, mengapa para pemain lapangan hijau di klub-klub dunia bisa begitu maksimalnya dalam memacu kemampuan, sedangkan pemain lokal tidak sehebat mereka?  Padahal kalau dilihat ukuran tubuh, dengan orang Jepang atau Korea misalnya, tidak jauh berbeda.  Tetapi makin saya pahami, ternyata performance mereka dikelola dengan profesional, maksimal, dan ilmiah.

Dalam coachesinfo.com, saya membaca pemaparan Prof. Pekka Luhtanen, Peneliti Senior KIHU Research Institue for Olympic Sports.  Ia memberikan setidaknya ada 5 faktor pemicu yang menjadikan seorang pemain lapangan hijau punya prestasi maksimal.

Pertama, Individual Skill.  Seorang pemain lapangan hijau harus maksimal dalam melatih kemampuan mengumpan, menerima umpan, bertahan, lari dengan bola, dribel, menembak, menyundul, menghentikan dan menahan lawan.  Kedua, Basic Movement, mereka dilatih untuk maksimal dalam berlari; ke depan, ke belakang, ke samping, berputar, berhenti, dan lompat.  Ketiga, Physical Qualities, umur mereka masih bagus, berat badan seimbang, tinggi badan proporsional, struktur tubuh, kecepatan, kekuatan, kebugaran, keseimbangan, fleksibilitas, koordinasi dan ketajaman.  Keempat, Sensomotoric Abilities, memiliki kemampuan pendengaran yang baik, penglihatan, sentuhan, cara bereaksi, refleks, vitalitas otot, dan pembuat keputusan cepat.  Kelima, Physical Abilities, motivasi, kewaspadaan, konsentrasi, ketepatan, percaya diri, kreativitas, kemampuan menghadapi kekecewaan.  Kelima prinsip itulah yang membuat seorang pemain lapangan hijau maksimal dalam Football Performance mereka.

Pesepakbola Persipura, Boaz Solossa, berusaha melewati hadangan pesepakbola Persija saat berlaga dalam lanjutan Liga Super Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (4/6)

Boaz Salosa dengan kemampuan yang menawan

Untuk memiliki skill yang baik, Luhtanen memberikan rumusan sebagai berikut:

Skill = Force (kekuatan) x Velocity (kecepatan) x Akurasi x Purposefulness (Memiliki Tujuan yang jelas).  Semua rumusan tersebut menuntut perfection. Sebuah football performance adalah sebuah usaha yang sangat keras untuk mencapai kesempurnaan dalam setiap pertandingan, atau saat latihan. Seorang pemain lapangan hijau adalah seorang yang terlatih dan lebih banyak dipacu untuk berprestasi di atas rata-rata.  Mereka melakukannya dengan total.  Saya melihat, rumusan itu tidak jauh berbeda dengan profesi lain, entah sebagai atlit, penulis, cleaning service, pedagang, atau direktur.  Bukankah kemampuan kita juga berasal dari kekuatan tubuh yang baik, disertai dengan kecepatan mengambil keputusan dan bertindak, ditambah dengan akurasi dalam melakukan tindakan di dalam pekerjaan.  Apalagi masalah tujuan.  Pekerjaan yang serius, bukan yang main-main, pasti memiliki tujuan yang jelas, baik tujuan organisasi maupun tujuan pribadi yang selaras.  Bukankah kalau semuanya dilakukan dengan total kita akan menjadi seorang pekerja yang dalam kategori “mahal” ?

Coba bayangkan betapa serunya pertandingan 2 tim di dalam liga yang rata-rata pemainnya memiliki hasrat perfection yang juga sama tingginya.  Bayangkan saja jika tim sebesar Milan melawan Juventus, MU vs Chelsea, Real Madrid vs Barcelona, Inggris vs Argentina, Brazil vs Italia, pertemuan antara dua klub dengan kualitas pemain di atas rata-rata.  Hasilnya adalah supra prefection, pertandingan antara pemain-pemain yang haus prestasi.  Yang memiliki mental lebih kuat, dialah yang menang.  Di dalamnya bisa terjadi permainan-permainan cantik nan menawan, tetapi jika ada lepas kontrol emosi, bisa jadi ledakan-ledakan hati berbuahkan permainan keras.  Itulah sebabnya, sebuah bigmatch, pertandingan antara 2 klub besar, selalu menarik perhatian, mahal dan bergengsi.  Misalnya sewaktu Milan dan Juventus bertemu di San Siro, tiket terjual habis dan menghasilkan keuntungan 20 M.  Mahal, karena orang ingin melihat perjumpaan yang supra perfection, perjumpaan totalitas dan kesempurnaan dalam bermain bola.

Tentu saja, walaupun tuntutannya adalah kesempurnaan, seorang pemain lapangan hijau tetap saja manusia biasa.  Masih bisa kalah dan terpuruk.  Mereka hidup dengan tingkat stress yang luar biasa tingginya. Di sisi lain dari hidup mereka, di luar lapangan, mereka bisa jadi liar, tak terkontrol, hidup dalam dunia gemerlap, gonta-ganti pasangan, bahkan terlibat kriminal.  Di lapangan, mereka berjuang dengan tingkat ketegangan tinggi, di luar lapangan mereka melepaskan ketegangan.  Jika mereka tak bisa menyeimbangkan hidup yang seperti itu, hidup mereka bisa lebih kacau dari orang-orang kebanyakan. Tetapi, beberapa di antara mereka masih bisa tetap hidup normal, walaupun mereka juga berusaha sangat keras untuk bisa membangun hidup yang wajar dan normal.  Memang mahal sekali harga sebuah performance.

Pencapaian performance total inilah yang membuat saya ciut jika membandingkan pemain lapangan hijau negeri ini dengan pemain-pemain kelas dunia. Bagus juga memakai kata “kelas,” karena memang perfection inilah yang membedakan antara kelas Taman Kanak-kanak dan kelas 3 SMU.  Di SEA GAMES saja kita masih kalah dari negeri jiran, apalagi di tingkat Asia, bahkan Eropa dan Amerika.  Yah, begitulah kira gambaran kekuatan pemain lokal dan dunia.  Bukan hanya di sepak bola, tetapi pada sangat banyak aspek.

Tetapi bukannya tidak mungkin, pemain lapangan hijau lokal bisa menembus dunia. Kalau pembinaannya serius, dituntut kerja keras, dan dilakukan sejak dini, pasti bisa, walau mungkin makan waktu sangat lama.  Sekitar 100 tahun?  Why not?  MU saja baru berprestasi setelah lebih dari 100 tahun.

Bagaimana dengan pemain di luar lapangan?  Kondisinya mirip, bukan?

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.