Semua manusia pasti punya bakat.  Tetapi manusia maju tidak hanya bergantung pada bakat.  Karena bakat punya saudara kembar siam yang tidak bisa dipisahkan dari hidup orang-orang yang bertekad untuk maju, yaitu: kerja keras.  Jadi, bakat dan kerja keras adalah saudara kembar.

Saya belajar dari seorang pemain muda yang berbakat ini.  Tetapi, bakatnya itu tidak menjadi hebat dengan otomatis.  Ia mengaku mengasah bakatnya, padahal sebelum jadi pemain terkenal saat ini, ia berasal dari kalangan menengah yang tidak punya fasilitas untuk mengembangkan bakat besarnya itu.  Tentu saja ia pemain lapangan hijau, tetapi tipsnya bisa diterapkan bagi para pemain di luar lapangan hijau.  Namun, sebelum mengenal pemain muda ini, simak dulu tips-tips sederhananya ini, ditambah dengan aplikasi tambahan dari saya:

–          Ketahui di posisi mana kita dapat bermain maksimal.  Jangan ngotot untuk selalu jadi penyerang. Tiap posisi punya peran yang sangat penting.  Aplikasi: kenali bakat sendiri.  Tidak selalu bakat milik sendiri itu harus yang spektakuler, dan tidak perlu ngotot mau yang hebat-hebat, karena bakat dan peran apa pun penting.

–          Tidak masalah ketika tidak ada lapangan memadai.  Kalau yang ada hanya jalanan atau gang sempit, latihan saja teknik menggiring bola.  Atau berlatih dengan tembok.  Tendang bola, pantulkan, lalu tendang lagi, untuk melatih penerimaan dan kontrol bola.  Aplikasi: jangan ribut soal fasilitaaaas, melulu.  Perlu jadi kreatif untuk memakai apa saja yang ada di depan mata terlebih dahulu.  Kemajuan tidak akan terjadi kalau cuma meributkan fasilitas atau kenyamanan.  Ternyata, pemain besar seperti dia melatih diri dengan ketiadaan fasilitas yang layak.

–          Kontrol bola bisa juga dilakukan dengan juggling (memantulkan bola dari kaki dan tidak boleh menyentuh tanah).  Selain teknik, latih juga fisik kita dengan berlari, lari sprint, senam, latihan angkat beban.  Aplikasi: melatih tubuh dan diri  lebih dulu, sebelum ada fasilitas atau kenyamanan.

–          Bergabunglah ke klub sepak bola.  Di sana Anda akan dilatih jadi pemain profesional.  Sabar dan jangan putus asa kalau belum jadi pemain inti.  Terus perbaiki kemampuan dan berprestasi.  Aplikasi: kalau sudah mampu, boleh bergabung ke klub, ikut kursus, atau minimal miliki rekan-rekan yang bisa diajak sharing untuk membahas bakat-bakat diri.  Sabar, bukan pilihan, tetapi sebuah kemutlakan sama mutlaknya seperti matahari yang pasti terbit dari timur.  Secara otomatis, mental instan, juga perlu dihalau dari hati.

–          Disiplin, baik dalam latihan, waktu istirahat, dan konsumsi.  Aplikasi: ternyata seorang juara adalah manusia yang disiplin. Disiplin seakar kata dengan disciple (murid/pengikut), jadi sebagai orang yang menuntut diri untuk disiplin adalah sama dengan seorang yang sadar bahwa dirinya adalah seorang murid yang mau terus menerus belajar.  Bukan hanya di lapangan, tapi juga di segala aspek.  Mulai dari waktu kongkow-kongkow, sampai soal makanan yang masuk tenggorokan. (GF! Agustus 2004)

kaka

Ricardo Kaka

Itulah resep sukses pemain lapangan hijau muda ini.  Sepak terjangnya telah mendunia.  Padahal ia sebelumnya hanya anak kampung di Brazil yang lahir 22 April 1982.  Ia turut membawa Brazil juara di Piala Dunia 2002, di umurnya yang ke-20.  Dengan klub Sao Paulo, sudah merumput sebanyak 148 kali dengan 58 gol.  Bahkan ketika masih imut, dia dilirik tim raksasa Italia, AC Milan dengan nilai transfer 8,5 juta dollar, dan berperan besar dalam membawa Milan untuk jadi juara Liga Italia, dan juga pernah bermain di Real Madrid.  Dia adalah Ricardo Izecson Santos Leite, atau yang beken dengan nama: Kaka.  Ia adalah salah satu contoh manusia yang menunjukkan: bahwa bakat dan kerja keras adalah saudara kembar siam yang tidak bisa dipisahkan.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.