image descriptionBermain untuk tim nasional adalah sebuah kebanggaan tersendiri, demikian juga melatih tim nasional.  Sebagaimana kita ketahui, sudah banyak pelatih asing yang melatih Indonesia.  Melalui mereka, kita dapat melihat bagaimana potret sepak bola Indonesia.

Kita mulai dulu dengan beberapa nama yang pernah melatih Timnas Indonesia.  Pada periode 1951-1953 kita mengenal nama Choo Seng Quee, asal Singapura yang dipanggil untuk Asian Games 1951 New Delhi.  Ia memilih pemain dari pertandingan seleksi PSSI (Jawa, Sumatra, Indonesia Timur), kalah 0-3 dari India, tapi dalam tur Asia 1951-1953 pernah menang 7-0 lawan Malaysia, 3-2 atas Hongkong Selection.  Pemain saat itu Djamiat, San Liong, Ramang.  Chong Seng pernah mengatakan, “. . .mereka tahu untuk apa mereka berlari dan untuk apa mereka berhenti.  Mereka benar-benar pakai otak.”

Pernah pula ada nama Marek Janota (Polandia, 1979).  Setelah membawa Persija juara Divisi Utama, ditarik PSSI pimpinan Ali Sadikin untuk juarai SEA Games 1979, tetapi tidak punya kesempatan untuk berjuang di turnamen itu, karena sebelumnya Rudi Keltjes dkk dalam turnamen Piala Kirrin di Jepang kalah lawan Tottenham Hotspur 0-6, Fiorentina 0-4 dan Jepang 0-4.  Tetapi apa katanya mengenai kondisi sepak bola negeri ini?  Ia mengatakan, “Di PSSI terlalu banyak orang yang menganggap dirinya pintar, semua mau campur tangan. . . Anda bayangkan, sampai latihan fisik pun dicampuri. Katanya terlalu berat. Padahal saya sudah menerapkannya di Persija dan mereka berhasil.”

Lalu kita bertemu dengan Frans Balkom (Belanda, 1980).  Setelah juara Grup I Piala dunia 1978 saat membesut Hong Kong, diantaranya mengalahkan Indonesia 4-1 dan menjadi penasihat teknis Niac Mitra saat Juara Piala Aga Khan, PSSI menarik Balkom.  Tapi kalah dari Malaysia 1-6 dan Brunei 2-3 dengan persiapan 1 bulan, walau dibela Ali Sadikin yang menyatakan waktu persiapan terlalu mepet, akhirnya ia dipecat.

Dari Jerman ada nama Bernd Fischer (1981-1983).  Dengan bayaran 5 juta per bulan untuk SEA Games Manila 1981, bahkan minta didatangkan minuman khusus dari Jerman seharga 11,4 juta tapi Ronny Pattinasarani dkk hanya peroleh perunggu.  Lalu di SEA Games Singapura 1983 kalah 0-5 dari Thailand, 1-1 oleh Brunei dan gagal ke semi final, lalu uji coba kalah 0-5 dari Arsenal. Pesannya, “Cari pemain dan bentuk tim baru!”

Dari Jerman menuju Yugoslavia; Ivan Toplak (1992-1993).  Dengan 300 juta untuk 2 tahun – (saat itu ia berusia 61 tahun) membawa Yugoslavia memeroleh perunggu di Olimpiade Los Angeles 1984, tapi gagal total untuk semua ajang yang dipercayakan padanya untuk kualifikasi Piala Dunia, SEA Games, dan lolos untuk Olimpiade Atalanta; ia hanya diberi waktu beberapa bulan saja. Toplak mengatakan, “Organisasi permainan Indonesia sangat rapuh. . . kerjasama dan organisasi permainan. . . kita boleh punya punya teknik tinggi, tapi kalau maunya main sendiri seperti membawa bola melewati dua sampai 3 tau 4 orang, itu sudah tidak benar.”  Ia juga menghadapi problem mentalitas, “Saya heran melihat para pemain tidak merasa patah hatinya setelah mengalami kekalahan seperti ini.  Tampaknya mereka sangat mudah untuk melupakannya” (setelah selalu kalah dalam kualifikasi Piala Dunia 1994).  Ia mengatakan, “Harus memiliki tim di bawah 16 tahun.”  Disegani di Eropa, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa di Indonesia, melatih beberapa bulan saja, pernah pingsan di lapangan latihan di  Singapura.

Lalu Indonesia beralih ke pelatih Italia; Romano Matte (1995) – anggota tim pelatih Sampdoria, menangani tim Primavera, tetapi gagal di SEA Games Chiang Mai 1995 di era Kurnia Sandy, Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto.  Setelah dari Italia, kembali ke Belanda; Henk Wullems (1997), eranya Sugiantoro, Chairil Anwar, Facry Husaini, menularkan total football, tetapi sayang kalah adu penalti lawan Thailand di SEA Games 1997.

Lalu ke Jerman lagi, Bernhard Schumm (1999) dengan gaji  7500 dolar per bulan.  Saat itu ia berani memainkan pemain muda usia 19 tahun ke tim senior, Bambang Pamungkas.

Setelah itu, muncul nama Ivan Kolev asal Bulgaria, di era 2002-2004 dan 2007 dengan gaji  5000 dolar per bulan.  Ia membawa runner up piala Tiger karena kalah adu penalti lawan Thailand. Persiapan tim kurang didukung oleh PSSI, lolos ke Piala Asia 2004 tanpa pernah uji coba dengan negara lain!  Sempat menang 2-1 atas Qatar, tapi kalah 0-5 dari China dan 1-3 dari Bahrain.  Kenapa timnas gagal?  Karena kurang perhatian dan gaji telat!  Pada tahun 2007 gagal membawa tim U-23 ke final SEA Games walau pernah satu bulan di Argentina.

Setelah itu mencoba pertuntungan dengan pelatih asal Inggris; Peter Withe (2004-2007) dengan nilai kontrak 12.000 dolar per bulan.  Ia pernah membawa Aston Villa ke final Champions 1982.  Withe memasukkan nama-nama seperti Boaz Salossa, Saktiawan Sinaga dan Mayhadi Panggabean.  Menyuntikkan prinsip bermain sederhana dengan spirit tinggi.  Sempat diprotes karena memperkerjakan anaknya, Jason, namun target tidak ada yang tercapai; kualifikasi Piala Dunia 2006, Piala Tiger 2004 dan 2006,  SEA Games 2005, Piala Merdeka 2006, piala Asia 2007. Padahal, ia pernah membawa Thailand ke semifinal Asian Games 1998, dua kali Piala Tiger.

Garuda White AdvSelain nama-nama di atas, ada beberapa nama yang kurang familiar untuk tim yunior.  Ada nama Barbatama (Brasil, 1981) yang memoles Hermansyah, Patar Tambunan, Azhari Rangkuti, Marzuki Nyak Mad mereka adalah yang menghuni tim Indonesia saat juara grup 3B kualifikasi Piala Dunia 1986 dan emas SEA Games 1987.  Ada pula nama Josef Masopust (Ceko, 1991), memoles Rochi Putiray, Heriansyah yang juarai SEA Games 1991.  Ada juga Burkhard Pape (Jerman, 1984-1985), bawa tim diklat Ragunan juara Piala Pelajar Asia 1984 di India dan 1985 di Jakarta, orbitkan Noah Meriem, Frans Sinatra, Theodorus Bitbit.  Itu yang berhasil.

Ada pula nama-nama yang kurang familiar untuk junior  dan gagal seperti: Tord Grip, asisten Sven Goran Ericsson saat membidani Sampdoria, gagal loloskan Indonesia yang didominasi lulusan Primavera ke kualifikasi Olimpiade Atalanta 1996.  Juga Fope de Haan (Belanda); pernah 2 kali bawa tim U-21 Belanda juara Euro U-21, gagal lewati kualifikasi Asian Games 2006 walau 3 bulan di Belanda.  Sergei Dubrovin (Moldova), sempat bawa timnas ke Turki, gagal ke semifinal SEA Games 2003.  Alberto Bica (Uruguay) meneruskan kerja rekannya Caesar Payovich; gagal ke semifinal SEA Games 2009.

Namun ada satu nama yang istimewa; Tony Pogacknik (Yugoslavia, 1954-1964 dan 1977) era Maulwi Saelan, Tanoto dan Ramang.  Ia memiliki pernyataan yang terkenal, “Mau bermain bola atau mengubah sejarah?”  Kalimat ini membuat Indonesia menahan Uni Soviet 0-0 pada babak kedua Olimpiade Melbourne 1956, sebelumnya medali perunggu Asian Games 1954.  Ia bisa ke Indonesia karena lobi Presiden Soekarno dan presiden Tito.  Selama 10 tahun bentuk 2 tim kuat, tim Banteng dan tim Garuda; Pogacknik memerkenalkan permainan sepak bola modern. Ia menggabungkan ilmunya dengan karakteristik pemain Indonesia.  Ia juga mengatakan,“Untuk kecepatan jarak pendek 10-15 meter, pemain Indonesia nomor satu di dunia.”  Bahkan Pogacknik menangis saat Indonesia dikalahkan Hongkong 1-4.

Tetapi yang paling mengesankan adalah pernyataannya, “Tentu saja saya mencintai negeri kelahiran saya Yugoslavia.  Tetapi saya juga mencintai Indonesia. Saya ingin menjadi warga negara negeri ini dan terkubur di sini” (1974).  Empat tahun kemudian dalam usia 64 tahun ia meninggal dunia dan dikebumikan di Jakarta.  Apakah ada pernyataan seperti ini dalam diri anak bangsa?

 

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.