Suatu ketika saya berjalan di sebuah mall besar di Surabaya, dan di saat saya sedang melihat-lihat barang elektronik di sebuah gerai, saya menemukan seorang pemain asing yang bermain di liga Indonesia sedang mencari head set.  Tentunya teman-teman sudah tidak asing dengan head set, atau sejenis perangkat elektronik yang digunakan untuk mendengarkan musik.  Jika kita menonton pertandingan sepak bola di televisi akhir-akhir ini, biasanya di bagian awal liputan ditunjukkan momen saat pemain sampai di stadion dan kemudian keluar dari bus tim.  Saat pemain keluar dari bus, biasanya sebagian besar pemain menggunakan head set sambil berjalan menuju ruang ganti.  Awalnya saya bertanya-tanya, para pemain ini sebenarnya mau bermain sepak bola atau mendengarkan musik? Soalnya bagi saya jika pemain menghadapi pertandingan besar, seharusnya dia fokus dan konsentrasi terhadap pertandingan tersebut, bukan malah mendengarkan musik!  Ternyata saya salah. . .

music 3

Neymar dengan head set kesayangannya

          Menurut salah seorang ahli psikologis, musik ternyata adalah salah satu alat fokus dan konsentrasi terbaik yang sudah terbukti khasiatnya untuk pemain sepak bola.  Musik diyakini dapat memberikan efek positif untuk persiapan mental sebelum dan sesudah melakukan pertandingan atau saat berlatih.  Profesor Peter Terry dari Universitas Southern Queensland menyampaikan bahwa, “Jika kita menghubungkan apa pun aktivitas kita dengan tempo musik maka akan muncul efek baru dari energi yang akan sangat terasa.”

         Musik memiliki karakteristik yang beragam dan semua itu terangkum dalam paket lirik, nada dan tempo.  Lirik dapat menginspirasi pemain untuk lebih bersemangat saat menghadapi pertandingan.  Bradley Busch seorang mental skills coach memberikan contoh salah satu lagu yang menginspirasi pemain untuk lebih bersemangat adalah ‘Encore’ yang dinyanyikan oleh Jay Z.  Di dalam lirik lagu ini terdapat kata-kata “I came, I saw, I conquered” (aku datang, aku lihat, aku taklukan!).  Lirik seperti ini menurutnya sangat efektif bagi pemain, apalagi saat menghadapi pertandingan besar.

         Nada dan tempo musik ternyata juga dapat membuat pemain menyatukan paket konsentrasi dan relaksasi dalam pertandingan.  Detak jantung, pernafasan, optimalisasi indera, dan pergerakan fisik dapat diatur dengan baik setelah pemain mendengarkan nada dan tempo musik tertentu. Yang paling menarik dari musik adalah arti dari sebuah lagu terhadap masing-masing individu pemain.  Arti sebuah lagu dapat membangkitkan tenaga bawah sadar yang dapat berdampak bagi penampilan pemain di dalam maupun di luar lapangan.

         Dr. Costas Karageorghis dari Universitas Brunel melakukan penelitian terhadap berbagai jenis musik dan merangkum daftar lagu yang dapat mengispirasi pemain untuk peningkatan penampilannya.  Dibagi dalam 3 kategori yaitu untuk visualisasi (fantasi pemain), pre-match motivation (persiapan sebelum pertandingan), dan post-match relaxation (pendinginan setelah pertandingan).

Visualisasi

Voices of the Valley – Abide With Me (42 beats per minute)

R Kelly-  I Believe I Can Fly (60BPM)

Luciano Pavarotti – Nessun Dorma (50-60BPM)

David Bowie – Heroes (113BPM)

Keith Mansfield (composer) – Grandstand theme (132BPM)

 

Pre-match motivation

Queen – We Are The Champions (64BPM)

The Farm – All Together Now (112BPM)

Tinie Tempah – Pass Out (127BPM)

Dario G – Carnival de Paris (137BPM)

AR Rahman and the Pussycat Dolls ft Nicole Scherzinger – Jai Ho (You Are My Destiny) (137BPM)

 

Post-match relaxation

Enya – Anywhere Is (100BPM)

Sergio Mendes – Mas que Nada (99BPM)

Groove Armada – At the River (68BPM)

Seal – Kiss from a Rose (44BPM)

Fleetwood Mac – Albatross (67BPM)

Akan tetapi, lagu-lagu diatas adalah lagu-lagu barat yang mungkin kurang sesuai dengan selera pemain Indonesia.  Jika demikian, kira-kira lagu-lagu apa saja yang sesuai dengan pemain Indonesia?  Penelitian saat ini mungkin belum dilakukan, tetapi ada beberapa lagu yang dibuat musisi tanah air yang sepertinya cocok untuk pemain Indonesia, seperti “Bendera” oleh Cokelat, atau “Tendangan dari Langit” oleh band Kotak. Ada lagi “Garuda di Dadaku” oleh Netral, atau “Indonesia dari Timur” oleh Doddie feat. TimNas dan mungkin lagu-lagu lainnya.  Bagaimana dengan irama dangdut?  Sepertinya lebih banyak efek negatifnya deh hehehe. . . (bercanda)

Musik memiliki peranan besar untuk pemain sepak bola.  Mendengarkan musik dapat meningkatkan 10% penampilan pemain sepak bola di lapangan.  Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi ada beberapa pemain sepak bola yang kurang suka mendengarkan musik dan mungkin hobi dan kebiasaan lain yang dapat membuat mereka efektif di lapangan.  Maju terus sepak bola Indonesia!

“Jika kita menghubungkan apa pun aktivitas kita dengan tempo musik maka akan muncul efek baru dari energi yang akan sangat terasa.” -Peter Terry-

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

3 Comments

Leave a Reply to Oscar Baadilaa

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.