Dalam sepak bola atau pagelaran yang bersifat mengumpulkan massa , kerusuhan dapat saja terjadi. Berkumpulnya ratusan, ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu massa di dalam stadion selalu merupakan potensi besar sebuah kerusuhan jika tidak ditangani dengan strategis. Apa penyebab kerusuhan? Sisi Ilmiah Sebuah Kerusuhan

Secara psikologis, pemicu awalnya adalah stres.  Ini sudah terjadi  di luar namun dibawa ke stadion.  Potensi ini sudah ada ketika massa menginjakkan kaki di stadion. Maka, pemicu sekecil dan seremeh  apapun dapat membuat keadaan tidak terkendali.  Tinggal cari pemicunya, maka stress akan tersulut ke arah negatif.

Jangan lupa, bahwa yang mengalami stress bukan satu orang saja.  Stres juga dialami olah banyak orang lainnya.  Bayangkan jika satu stadion dipenuhi dengan begitu banyak orang yang mengalami keterbatasan ekonomi, kurangnya pendidikan, tekanan hidup.  Bukan bermaksud menghina, namun dari beberapa kasus yang terjadi, kerusuhan terjadi pada golongan yang secara sosial disebut “menengah ke bawah” di mana stres atau tekanan hidup sesehari lebih banyak dialami.

Seringkali sepak bola dijadikan semacam “ekstasi” yang diharapkan dapat membawa kegembiraan bagi seseorang.  Namun segalanya dapat berubah dalam sekejap ketika tim yang didukung kalah, tim  kesayangan dicurangi, sehingga membuat hati kecewa. Alih-alih gembira malah tambah stress. Dipicu sedikit, akibatnya masif.  Walau demikian, kekacuan juga dapat terjadi ketika tim menang, dan dirayakan secara berlebihan dengan menghina tim atau pendukung lawan.  Sifat superior yang berlebihan, juga dapat menjadi pemicu kerusuhan yang benar-benar tidak pernah direncanakan.

Mengapa?  Karena di dalam tubuh manusia ada suatu hormon yang disebut hormon tostosteron, pemicu  agresivitas.  Hormon ini meletup ketika ada sesuatu yang menggembirakan.  Para peneliti di Violence Research Group di Cardiff University menemukan bahwa para suporter yang menyeruak masuk ke lapangan setelah timnya menang, menggambarkan diri mereka merasa lebih agresif dibanding suporter tim yang kalah.

Ketika sudah masuk ke dalam stadion, maka jiwa yang ada bukan lagi individu, melainkan jiwa massa.  Sekelompok manusia datang dengan warna kostum yang serupa, mendukung tim yang sama.   Kebersamaan dapat menjadi baik, namun kebersamaan yang dipicu hal sepele sekalipun dapat menjadi kerusuhan besar.  Maka, suporter membutuhkan kepemimpinan yang dihormati untuk mengendalikan jumlah massa yang sedemikian besar.

Dari pihak petugas keamanan, memang dibutuhkan strategi khusus.  Karena secara jumlah antara massa dan petugas keamanan jelas tak seimbang.  Jeff Wise pada thedailybeast.com melansir sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Liverpool School of Psychology yang meneliti perilaku massa selama kompetisi internasional di Portugal.  Kunci dari studi ini menemukan bahwa cara  pengamanan yang dilakukan oleh petugas akan memengaruhi level dari kerusuhan.  Para peneliti menemukan bahwa pendekatan yang paling efektif adalah dengan menyebarkan petugas berpakaian dinas normal yang diperlengkapi dengan perlengkapan untuk mencegah kerusuhan namun perlengkapan itu jangan terlihat dengan bebas.

Petugas dengan pakaian dinas biasa harus tersedia menyebar ke titik area potensial dan dengan hati-hati menaati komando.  Ide dasarnya adalah untuk mencegah pasukan keamanan dari memicu kekerasan.  Dengan menggunakan peralatan lengkap anti kerusuhan, tanpa sadar sebenarnya petugas sedang meramalkan terjadinya sebuah kerusuhan besar.  Bermaksud mencegah kerusuhan, malah menjadi pemicu kekerasan.  Tanpa sadar, massa justru merasa “diajak” untuk rusuh ketika melihat begitu siapnya petugas keamanan menggunakan perlengkapan anti kerusuhan.

Dengan kedewasaan berpikir dari para suporter, kebijakan strategi dari petugas keamanan dan perhitungan tepat dari pihak penyelenggara, berharap tidak terjadi kerusuhan.  Kalau pun terjadi, tidak masif apalagi menambah daftar kematian.

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

2 Comments

  1. Menurut pendapat saya Suporter di Indonesia lebih mencintai nama suporternya dari pada Club yang di dukung. Terbukti dengan apa yang mereka pakai. Lebih suka memakai kaos/baju suporter dari pada sebuah jersey club/tim kesayangan. Dan kenapa banyak anak-anak yang suka memakai jersey tim-tim papan atas eropa karena mereka lebih suka dengan tim tersebut maupun pemain yang bermain di sana. Dan kenapa anak-anak di Indonesia lebih suka memakai baju suporter dari pada jersey club yang di dukung? itu juga karena mereka lebih mencintai nama kelompok suporter. Mari Kita tiru Suporter Eropa yang lebih suka memakai jersey saat mendukung. Karena dengan melakukan hal itu, kerusuhan antar suporter sedikit demi sedikit dapat di musnahkan, pertarungan hanya ada di 2×45 saja. Selain itu, kita juga membantu pembelian Merchandise tim yang kita dukung….
    Salor…..

  2. Arahbola says:

    terima kasih oscar, kalau bisa di share juga ke teman2 oscar…….
    http://www.arahbola.org
    facebook page : arahbola (silahkan di like)
    twitter : arahbola (silahkan di like
    demi kemajuan sepakbola indonesia

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.