Pelatih sepak bola sering menggunakan berbagai tes yang dirancang untuk menentukan seberapa bugar pemain mereka.  Salah satunya adalah uji Cooper.  Untuk “lulus” uji Cooper, pemain diharapkan dapat menyelesaikan lari sejauh 2 mil (3,2 km) dalam waktu maksimal 12 menit atau kurang.  Pemain terkadang takut mengikuti uji Cooper karena jika gagal untuk berlari 2 mil sebelum 12 menit, berarti pemain tersebut dapat dianggap kurang bugar dan tidak siap untuk bermain di pertandingan selanjutnya.  Bagaimana uji Cooper bisa menjadi salah satu metode evaluasi kinerja pemain yang populer?  Apakah hasil dari uji Cooper dapat menggambarkan dengan jelas kepada pelatih tentang kebugaran pemain?  Uji Cooper sebenarnya memiliki sejarah panjang dan menarik sejak dikembangkan dan diadopsi oleh komunitas sepak bola.  Namun, uji Cooper juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami sebelum menggunakannya sebagai ujian kebugaran pemain sepak bola.

kenneth cooper

Dr. Kenneth Cooper

          Para ahli fisiologi olahraga di sekitar tahun 1960 mulai dapat memahami keterkaitan antara, kebugaran, kesehatan, dan gejala penyakit. Mereka mengamati bahwa kurangnya kebugaran kardiovaskular dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular.  Pada 1967, mereka menetapkan batasan konsumsi oksigen maksimal (VO2max) sebagai acuan standar kebugaran kardiovaskular.  VO2 adalah jumlah oksigen yang dikonsumsi per menit, dibagi dengan massa tubuh (ml O2/kg/min).  VO2max adalah nilai yang dicapai oleh usaha maksimal pemain.  Memiliki VO2max tinggi menunjukkan kebugaran kardiovaskular atau aerobik yang tinggi serta kapasitas daya tahan yang tinggi. Sayangnya, pada akhir 1960-an, untuk mengukur VO2max sangat sulit dan dibutuhkan laboratorium, beberapa peralatan canggih serta tenaga kerja yang cukup besar.  Dengan demikian untuk memperkirakan VO2max pemain dalam jumlah yang banyak, dikembangkan beberapa tes lapangan salah satunya adalah uji Cooper.

cooper run test

          Uji Cooper awalnya dikembangkan pada tahun 1968 oleh Dr. Kenneth Cooper.  Ia bekerjasama dengan Angkatan Udara AS dengan tujuan untuk mengetahui kebugaran dan VO2max personil militer.  Pada dasarnya, ia menghubungkan nilai pengukuran VO2 max dari laboratorium  dengan jarak yang ditempuh selama 12 menit berjalan kaki atau berlari.  Hal ini merupakan uji sederhana di mana para personel militer diminta untuk berjalan atau berlari selama 12 menit.  Kemudian saat 12-menit  mereka berhenti dan jarak yang ditempuh diukur.  Dr. Cooper menemukan bahwa VO2max laboratorium memiliki hubungan yang cukup erat dengan uji lapangan.  Pada titik yang ekstrem dari data, saat subyek berhasil menempuh jarak 2 mil dalam 12 menit maka dapat diprediksi bahwa subyek tersebut memiliki  VO2max sekitar 60 ml / kg / min.

          Uji Cooper yang sebenarnya dirancang untuk memperkirakan VO2max dengan mudah untuk individu dalam jumlah banyak dengan berbagai tingkat kebugaran (personel militer).  Penelitian tersebut menghasilkan tabel kesimpulan yang menggambarkan berbagai kategori kebugaran.  Misalnya, seseorang yang dapat menempuh jarak 1,25-1,49 mil dalam 12 menit dianggap memiliki tingkat kebugaran yang “aman.” Kinerja pada uji tersebut dianggap “Sebagai indikasi kebugaran kardiovaskular dan sebagai metode untuk memantau perubahan dalam kebugaran.”  Karena uji lapangan memiliki beberapa kesalahan dalam prediksi, uji Cooper tidak dapat dinyatakan akurat 100% untuk  pengukuran VO2max, hanya perkiraan kebugaran.

          Delapan tahun kemudian, Dr. Cooper dan rekan-rekannya menggunakan uji Cooper untuk menggambarkan karakteristik fisiologis pemain sepak bola profesional (Raven dkk., 1976).  Untuk studi ini, mereka menggunakan pemain dari klub sepakbola Dallas Tornado, yang merupakan anggota dari Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL).  Saat itu mereka menemukan VO2max pemain (pengukuran laboratorium) rata-ratanya adalah 58,4 ml / kg / menit.  Para pemain juga rata-rata dapat menempuh 1,86 mil selama 12 menit.  Pada dasarnya, penelitian ini menunjukkan bahwa pemain profesional rata-rata memiliki VO2max sekitar 60 ml / kg / menit dan dapat menempuh jarak lari sekitar 2 mil  selama  12 menit.

          Terjadi sedikit pergeseran pedoman pengukuran dari lari 12 menit untuk jarak sekian km, menjadi lari 2 mil untuk waktu sekian menit? Perhatikan bahwa uji Cooper pertama kali digunakan untuk populasi militer kemudian untuk masyarakat umum.  Beberapa yang tidak memiliki kebugaran mungkin tidak dapat menyelesaikan lari atau berjalan sejauh 2 mil.  Jadi pengukuran berlari 12 menit kemudian merekam jarak (tidak peduli seberapa pendek jarak yang ditempuh) adalah lebih masuk akal.  Pada 1984, sebuah kelompok riset dari Angkatan Darat AS melakukan uji Cooper secara terbalik dan terfokus pada waktu untuk berlari ketimbang jarak.  Mereka menghubungkan pengukuran VO2max di laboratorium dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lari sejauh 2 mil.  Kelompok ini juga menemukan adanya hubungan yang erat antara VO2max dan waktu.  Mereka menemukan lagi bahwa VO2max ideal adalah 59,5 ml / kg / menit untuk 12 menit, dengan rata-rata jarak tempuh 2-mil.

Cooper_test table

Tabel Standar Tes Cooper

          Ada sedikit keraguan bahwa sepak bola memiliki komponen kebugaran yang tidak biasa.  Pemain dapat menjalankan lebih dari 6 mil (10km) selama pertandingan.  Jelas, pemain yang lebih fit, tampil lebih baik pada akhir setiap periode.  Dengan demikian, beberapa tingkat kebugaran sangat penting untuk kinerja.  Tapi mengapa selama ini 2 mil dalam 12 menit menjadi “Standar emas” untuk kebugaran dalam sepak bola?  Sebagian dari alasan itu berasal dari studi Tornado Dallas.  Pemain mereka memiliki VO2max rata-rata 60 ml / kg / menit dan menyelesaikan sekitar 2 mil dalam 12 menit.  Kemudian, peneliti sepak bola terkenal, Tom Reilly berpendapat bahwa keberhasilan dalam tim sepak bola profesional adalah jika pemainnya memiliki VO2max lebih besar dari 60 (Reilly & Doran, 2003).  Dengan mengerti hal ini, tampaknya logis untuk menguji pemain dengan VO2max 60 ml/kg/menit sebagai standar.

          Seberapa akurat uji Cooper dalam menilai kebugaran pemain sepak bola?  Ada beberapa masalah penggunaan kriteria ini sebagai standar emas untuk penilaian kebugaran pemain sepakbola.  Pertama, persyaratan batas minimum VO2max Dr Reilly dari 60 ml / kg / menit mungkin sedikit bergeser.  Sejak 1970-an, rata-rata VO2max seorang pemain profesional telah menunjukan peningkatan.  Namun, kebanyakan penelitian tetap menunjukkan bahwa rata-rata VO2max pemain sepak bola adalah sekitar 60 ml / kg / min dan diperkirakan kisaran nilai sukses adalah sekitar 50-70 ml / kg / menit.  Dengan demikian, sebuah nilai VO2max sedikit di bawah 60 atau waktu lari 2 mil  yang sedikit di atas 12 menit tidak selalu menunjukkan pemain memiliki kebugaran yang jelek.  Kedua, semua uji kebugaran di lapangan memiliki beberapa kesalahan dalam prediksinya.  Bahkan, dengan menggunakan data asli Dr. Cooper, seorang pemain yang menjalankan 2 mil dalam 12 menit mungkin memiliki VO2max antara 54 dan 66 ml / kg / min.  Ketiga, pelatih harus ingat bahwa 12 menit, nilai 60 ml / kg / min diukur kepada pemain profesional, bukan pemain amatir, pemain muda atau perempuan.  Mengharapkan pemain muda dan perempuan untuk tampil di tingkat yang sama mungkin tidak realistis.  Akhirnya, uji Cooper bukanlah uji yang sangat valid untuk mengukur kebugaran pemain selama pertandingan.  Uji Cooper meminta pemain untuk berlari pada kecepatan yang konstan selama 2 mil.  Hal Ini tidak pernah terjadi selama pertandingan.  Pemain berhenti, mulai lagi, jogging, berlari dan sering mengubah arah selama pertandingan.  Untuk alasan ini, beberapa jenis tes kebugaran tertentu untuk pemain sepak bola telah dikembangkan seperti yoyo intermitten running test, repeated sprint test, dan Hoff test.

          Sebagai alat evaluasi uji Cooper memang tetap memiliki tempat dalam agenda pelatih.  Tetapi, yang perlu diingat bahwa uji Cooper adalah salah satu alat yang memperkirakan satu dimensi saja dari kinerja pemain.  Dalam penggunaannya, pelatih tetap harus memahami keterbatasan dan menggunakannya seperti yang  dimaksudkan di awal, yaitu untuk memperkirakan kebugaran kardiovaskular pemain sepak bola.

 

Referensi:

Cooper, K. H.   A Means of Assessing Maximal Oxygen Intake.   Journal of the American Medical Association, 203: 135-138.  1968.

Mello, R. P., et al.   Relationship between the Army Two Mile Run Test and Maximal Oxygen Uptake.  Technical Report, Army Medical Research and Development Command; Accession No. ADA15394.  1984.

Raven, P. B., et al. British Journal of Sports Medicine, 10: 209-216.  1976.

Reilly ,T. and D. Doran.  Fitness Assessment.  Science and Soccer (2nd edition); New York, pp 21-46.  2003.

 

Ξ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.