Beragam penafsiran dan penilaian untuk meneliti mengapa tim Catalan ini seperti muncul dari planet lain yang mempertontonkan kekompakan tim serta cara bermain yang luar biasa.  Dari beragam sumber, beberapa pengamat, di sini saya hanyalah penyimpul saja:

            Pertama, faktor seorang jenius Belanda bernama Johan Cruyff, karena sejak Cruyff hingga kini, ball possession adalah kehausan dan obsesi mereka.  Ini terlihat sejak dream team mereka tahun 1991 dan 1994.

            Kedua, berkaitan dengan itu, mereka selalu mencari kesempatan untuk mengitari bola.  Semua mengitari bola.  Ini adalah mengenai gerakan cepat dan konstan – pendek – passing satu dua – kecerdasan penempatan diri.  Manajemen lari mereka sangat baik.  Lari sih lari, tetapi lari dengan cara yang tepat–lari ke mana-mana tanpa arah, tidak berguna.  Bahkan Guardiola pernah menegur Keita untuk jangan banyak berlari.

cruyf & micels

Cruyff (saat masih bermain di Barcelona) & Michels (sang pelatih)

            Pola seperti itu sudah ada di Barca, dan sudah menjadi DNA-nya Barca.  Michael Robinson, komentator terkenal sepak bola Spanyol mengatakan, “Mainkan 20 anak di tempat parkir dan saya akan katakan pada Anda, mana anak yang berasal dari Barcelona.”  Sejak era Cryuff, semua pemain Barcelona dan kebijakan tim adalah melestarikan semangat itu, gerak cepat – konstan – pendek – passing – satu dua – penempatan diri.  Maka dari dulu hingga sekarang, Barcelona lebih mementingkan warisan ini daripada menghadirkan pemain bintang.  Kalaupun ada pemain bintang, biasanya cocok dengan filosofi mereka, misal seperti Villa, Ronaldinho, yang bukan produk asli Barcelona – permainan Barcelona tidak berwarna warni, tetapi satu filosofi.

Faktor Kepemimpinan

            Sebagai pemuda tampan, Guardiola cocoknya menjadi model saja.  Tetapi di balik wajah tampannya itu, ia memiliki segudang ide, data dan strategi di dalam membangun tim.  Itulah sebabnya mengapa ia mumpuni menjadi pemimpin di dalam tim.  Bukan hanya sebagai pelatih, tetapi ia hadir penjaga filosofi.  Andre Villa Boas mengatakan,Guardiola mempunyai filosofi permainan ala Johan Cruyff dan Rinus Michels. Dua pelatih yang memang mengedepankan sepak bola indah. . . Filosofi Guardiola selalu terpatri pada saya setiap hari.”

guardiola dan messi

Guardiola & Messi

 Sebagai pemimpin, Guardiola mengiringi anak buahnya dalam kondisi apa pun.  Saat Barcelona sedang down, ia mementingkan motivasi – membuat kedisiplinan lebih – kebersamaan ditingkatkan dan membangun keyakinan pada pemain.  Setelah itu, biasanya pemain mulai lapar lagi.  Dani Alves pernah mengakui, bahwa setelah memenangkan Champions, motivasi justru menjadi kendala.  Guardiola mati-matian membangkitkan semangat.  Bahkan CD yang mereka putar dikontrol oleh Guardiola dan hanya boleh memainkan lagu yang dia pilih.

Formasi Tim

         Barcelona terkenal dengan filosofi 4-3-3.  Dengan formasi ini, Barcelona memilih 3 orang yang sungguh-sungguh penggerak, bahkan menimbulkan efek untuk membuka lapangan dan menciptakan ruang untuk pemain tengah; dan secara konstan berganti peran dengan pola kerja yang terarah.  Ini diakui oleh mantan midfielder Barcelona Victor Munoz.  Ia mengatakan,Barcelona membuat lapangan terlihat lebih besar dari kenyataannya.”

            Itulah sebabnya mengapa Barcelona sungguh selektif memilih pemain.  Misalnya, mengapa Barcelona memilih pemain seperti Seidou Keita?  Guardiola menyebut Keita sebagai “Ilegada” yang berarti bahwa Keita adalah pemain yang memiliki kemampuan untuk maju, menciptakan elemen kejutan.  Dulu orang mengira pembelian Keita adalah sebagai pemain defensif, ternyata salah.  Gerakan Keita ditambah lagi dengan pergerakan Xavi yang justru lebih maju lagi.  Ketika kondisi serangan statis, tiba-tiba ia bisa lari cepat.

Maka tidak heran, jika Barcelona demikian mengerikan saat menyerang. Suatu pola serang yang bikin ngiler siapa saja yang menyaksikannya.  Bahkan Wim Rijsbergen yang pelatih timnas Indonesia, ingin menerapkan pola 4-3-3 ini, namun dengan hasil yang jauh dari menggembirakan.  Betapa sulitnya.

barcelona belakang

Tim Barcelona

Tapi formasi 4-3-3 bukan formasi yang melulu dilakukan Barcelona.  Di beberapa kesempatan mereka berubah menjadi 3-4-3.  Filosofi ini dibawa oleh satu nama, Rinus Michels.  Resepnya sederhana.  Ia lebih suka jika jumlah defendernya lebih banyak dari jumlah penyerang lawan. Jika penyerang lawan ada 3, gunakan 4 defender.  Jika penyerang ada 2, gunakan 3 defender.  Kebanyakan tim kurang fleksibel.  Mungkin kurang nyaman berubah-ubah formasi.  Tetapi Michels melihat bahwa pemain-pemain yang sudah lama bermain bersama-sama lebih mudah adaptasi. Inilah etos Barcelona sejak 1971.

            Lalu mengapa Barcelona suka “mencekik” lawan?  “Sederhana,” kata Guardiola, “Saya senang justru ketika ada di wilayah lawan, dan tidak senang ketika kami ada di daerah sendiri. Pantas saja, sebuah spirit juang yang demikian tinggi.

            Jadi ternyata, pertahanan dimulai dari depan!  Di era Eto’o Messi dan Henry, mereka justru lebih sering melakukan pelanggaran dibanding pemain-pemain di belakang seperti Puyol, Marquez dan Pique, karena mereka juga bisa menjadi penyerang.  Mengapa demikian? Karena Eto’o selain berhasrat mencetak gol, ia sebenarnya juga berperan sebagai penekan.

Super Express

            Ibarat kereta api super cepat, di bawah Guardiola mengedepankan kecepatan.  Pertama, kecepatan berpikir.  Melatih kecepatan berpikir, Graeme Sounness mengatakan,Ketika permainan sedang berhenti, pemain yang buruk berhenti. Tetapi pemain yang baik berpikir.”  Lalu kedua, upayakan untuk mencetak skor secepatnya dan pilih pemain posisi tepat.  Seorang penulis mengatakan, “Possesion is the best form of defense” – penguasaan bola adalah bentuk terbaik dari pertahanan.  Itulah sebabnya mengapa dulu, Frank de Boer dan Ronald Koeman menjadi pemain Barcelona.  Walau, lucunya, Belanda sendiri tidak mampu menerapkannya.  Bentukan Michels jauh lebih efektif di Barcelona.

            Dari beragam pendapat di atas, maka saya pribadi menyimpulkan bahwa apa yang terjadi dalam era Guardiola, Barcelona bukan hanya membentuk teamwork, tetapi sebuah teamserve.  Bukan sekadar membentuk tim untuk bekerja, tetapi menjadikan tim sebagai sebuah keluarga yang mewariskan resep tradisi keluarga turun temurun.  Masing-masing pribadi memberikan pelayanan terbaik di eranya, maupun di era sesudahnya.  Ini tidak bisa dibandingkan dengan hanya dengan kucuran dana berlimpah saja.

Mainkan 20 anak di tempat parkir dan saya akan katakan pada Anda, mana anak yang berasal dari Barcelona

Michael Robinson, komentator sepakbola

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.