Sebenarnya ada banyak  “Hidden hero” dalam sepak bola, namun satu nama lagi akan saya berikan untuk Anda.  Dalam dunia sepak bola, nama yang satu ini mungkin tidak terlalu terkenal di Indonesia.  Namun minimal di 24 negara, seperti, Afrika, Australia, Belgia, Kanada Timur dan Kanada Barat, Cina, benua Eropa, Hong Kong, India, Irlandia, Jepang, Korea, Meksiko, Belanda, New Zealand, Norwegia, Filipina, Portugal, Skotlandia, Singapura, Swedia, Thailand, Uni Emirat Arab serta Amerika Serikat, nama ini sangat dikenal.

alfred and arsene

Alfred Galustian & Arsene Wenger

Alfred Galustian yang adalah Coerver Coaching International Director telah banyak membina pemain-pemain muda di negara-negara tersebut.  Kisah itu dimulai pada tahun 1983 ketika ia dan rekannya Charlie Cook datang ke Philadelphia, Amerika Serikat untuk menghadiri seminar kepelatihan yang dibawakan oleh pelatih kenamaan itu, Wiel Coerver.

Sebagai pelatih, Galustian tidak terlalu mementingkan program teknis saat itu, tetapi Coerver menyadarkannya.  Melalui Coerver, maka Galustian sadar, walau sistem di dalam tim sangat penting, namun mengembangkan kemampuan individu pemain akan secara tidak langsung meningkatkan performa tim juga.  Seperti itulah filosofi Coerver.  Dari pelatih Belanda itu pula, Galustian disadarkan bahwa tidak sepenuhnya benar bahwa pemain lahir sebagai jagoan.  Mereka tetap butuh dilatih kemampuan individunya.

Setelah itu, Cook dan Galustian membangun pertemanan dengan Coerver dan membentuk Coerver Coaching pada 1984, dengan Coerver sebagai konsultan.  Semenjak saat itu, Coerver method telah membahana di berbagai belahan dunia.  Video dan buku-bukunya diterjemahkan di lebih dari 11 bahasa dunia.

Dari filosofi Corver, mereka membangun sistem kepelatihan yang dibentuk sebagai sebuah piramid,

coerver piramid

Coerver Piramid

 

Hasilnya?  Nama-nama besar di dalam sepak bola seperti Franz Beckenbauer, Jurgen Klinsmann, Alex Ferguson, Arsene Wenger, Gerard Houllier, Carlos Alberto Parreira, dan legenda Brasil Roberto Rivelino, memuji sistem ini.  Klub-klub besar seperti Real Madrid, Manchester United, Arsenal, Liverpool atau Olympic Marseille menggunakan metode ini.  Bahkan, Galustian menjadi satu-satunya pelatih asal Inggris yang mengajarkan skill individu pemain Brasil yang saat itu dilatih oleh Carlos Alberto Parreira, walau Galustian sendiri mengakui bahwa pemain-pemain Brasil adalah salah satu inspirasi bagi metode ini.

            Galustian telah bekerja bersama Federasi Sepakbola Perancis pada tahun 1993 saat direktur teknisnya, Gerard Houllier mengundangnya di dalam latihan.  Maka tidak heran bukan, jika nama-nama seperti Nicolas Anelka, Thierry Henry and Lilian Thuram mengalami peningkatan performa.  Jangan lupa, Perancis Juara Dunia di tahun 1998 dan juara EURO 2000.

Belum lagi dampaknya di Jepang.  Bersama direktur Coerver Coaching Jepang, Tom Byer, telah menginspirasi begitu banyak pemuda Jepang untuk belajar sepak bola.  Sehingga tidak mengherankan jika mereka mulai merambah Piala Dunia, dan timnas wanitanya menjuarai kejuaraan dunia 2011. Saat itu timnas wanita Jepang melawan juara bertahan Amerika Serikat, di mana Coerver Coaching juga telah menginspirasi sekitar 35.000 anak-anak di negara itu di bawah arahan Charlie Cook.  Sedangkan di Cina, program latihan yang disiarkan melalui televisi telah menjangkau sekitar 30 juta orang!
            Walau demikian, sang hidden hero, Alfred Galustian merasa bahwa ia bukan siapa-siapa.
 Ketika ia bertemu dengan legenda Brasil, Zico, hal pertama yang ada di benak Galustian adalah, “Minta tanda tangannya. . .

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.