Dalam bahasa Jerman, gestalt memiliki arti yang sangat indah.  Bahkan kata ini kemudian menjadi istilah untuk dunia filsafat, psikologi, bahkan desain grafis.  Menurut Prof. Dr. Singgih Gunarsa dalam Psikologi Olahraga Prestasi [Jakarta: BPK, 2008], hukum gestalt mengatakan, “Keseluruhan adalah lebih dari hanya sekadar penjumlahan bagian-bagiannya.”  Gestalt merupakan keseluruhan terpadu yang bertindak secara utuh.

Ternyata, Gestalt adalah sebuah pencapaian yang demikian sulitnya untuk dituntaskan.  Sekaligus ketika Gestalt tercapai, itu adalah rahmat.

Gito T.W.; Tabloid Bola (16-18 Mei 2011).

Gestalt mungkin sebuah istilah baru bagi Anda, tetapi sebenarnya gestalt tanpa sadar sudah kita alami.  Tuhan telah menyelinapkan prinsip gestalt di dalam tubuh manusia.  Di antara  tangan, kaki, mata, mulut, telinga, organ tubuh bagian dalam bahkan hingga bulu-bulu halus di kulit, semua bekerja di dalam sinergi yang luar biasa.  Ia juga mendemonstrasikannya di dalam sinergi antara tubuh dan  jiwa; antara pikiran, perasaan dan kehendak.  Juga di dalam harmonisasi warna pada alam, dalam mengatur jarak planet sehingga tidak bertabrakan, mengatur perputaran bumi sehingga kita tidak mabuk akan putarannya.  Gestalt, bukan ide manusia, karena dari dalam dirinya manusia tidak mampu melakukannya.  Tetapi ini adalah sebuah standar yang harus dikejar oleh manusia.

Itulah sebabnya mengapa faktor kepemimpinan dalam sebuah tim menjadi kunci di dalam mengejar gestalt.  Tentu saja semua sisi sama pentingnya, tetapi dalam hal ini pemimpinlah yang menjaga kestabilan sebuah tim sehingga bekerja secara terpadu.  Seperti otak pada tubuh, manajer adalah otak bagi tim.  Manusia telah ditetapkan dari ‘sononya’ untuk bergerak di dalam keteraturan yang tak terbantahkan, di mana pemimpin yang memang memiliki ordo lebih tinggi layak untuk dihormati.  Lalu, tim sebagai “anak buah” harus tunduk dengan kepemimpinannya.  Ordo seperti ini juga bukan  ide manusia, namun menjadi standar yang harus dikerjakan manusia. Maka celakalah pemimpin yang menuntut penghormatan namun tidak layak bahkan tidak memiliki kemampuan untuk dihormati. Misalnya dalam tim yang ternama macam Barca atau Manchester United; kepemimpinan yang buruk dicaci jutaan manusia di dunia!

Nah inilah yang selalu menjadi pergumulan para manajer kelas dunia; menjaga gestalt.  Kepemimpinan mereka telah memunculkan sebuah kebenaran klasik: kepemimpinan sangat memengaruhi kinerja tim.  Mau bukti lain?  Tengoklah keberhasilan Guus Hiddink di Korea Selatan dan Australia, Mourinho di Inter Milan.  Sebaliknya, tengoklah “kegagalan” Ericsson dan McLaren di timnas Inggris.

guus hiddink

Guus Hiddink saat melatih Tim Nasional Korea Selatan

Mengapa?  Karena gestalt dalam tim; mulai dari pencuci baju, pemungut bola, pemijat, fisioterapis, hingga para pemain, pelatih dan pemilik klub, tidak dapat diupayakan oleh seorang manusia, sehebat apa pun dia.  Itu semata karya Tuhan.  Maka, gestalt adalah sebuah upaya, dan kemenangan adalah anugerah; yang nantinya dipuji, ya Tuhan saja.

Nah, ketika gestalt ketemu gestalt siapa yang menang?  Who knows.  Namun gestalt tidak diukur semata dari trophy atau kemenangan, tetapi apa dampaknya untuk peradaban manusia.  Pertemuan dua tim besar selalu merupakan momen sejarah, sebuah pembelajaran bagi jutaan manusia akan apa artinya kerja cerdas dan kualitas.  Kita baru tahu manakah yang gestalt, tentu setelah semua terjadi, dan jawabannya tentu saja tim yang lebih gestalt, yaitu tim yang mampu mengkritisi diri sendiri.  Syaratnya adalah kerjasama tim dan kepemimpinan yang mumpuni.

Secara individu kami adalah satu tetes air.  Bersama-sama kami adalah lautan!

Ryunosuke Satoro, penyair Jepang

 

≡ Gambar dari berbagai sumber.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.