geoff hostede grafic

grafik geert hostede cultural dimension

Apa yang dapat Anda mengerti dari grafik di samping?  Grafik ini dibuat oleh seorang peneliti budaya asal Belanda, Geert Hofstede yang dimunculkan dalam  website beliau, www.geert-hofstede.com.  Ada banyak negara yang menjadi penelitian beliau, namun secara khusus kita hanya akan melihat Indonesia, dan bagaimana grafik tadi “berbicara” di dalam dinamika sepak bola Indonesia. Karena ternyata kebudayaan suatu bangsa memberi pengaruh besar atau kecil bagi sebuah kesuksesan, atau kegagalan.

Akan dijelaskan secara ringkas istilah-istilah di dalam grafik  tersebut dan penilaian pada kekuatan maupun kelemahannya bagi timnas:

Power Distance Index [PDI] adalah sebuah istilah untuk menunjukkan adanya jarak [distance] antara atasan dengan bawahan, adanya kesenjangan antara yang atas dan bawah, yang dinilai dari mereka yang ada di bawah.  Yang bawah merasa adanya kekuasaan yang tidak seimbang dan mengharapkan adanya keseimbangan atau kesetaraan.  Melihat betapa tingginya nilai PDI dalam budaya Indonesia, maka kerugiannya adalah terjadinya sebuah kultus individu yang dituakan atau dihormati.  Ini pernah menjadi kesulitan Guus Hiddink saat melatih Korea Selatan yang memiliki kultur “atas” dan “bawah.”  Senioritas dan yunioritas dapat menjadi masalah.

Kadang kala memiliki pelatih atau pengurus sepak bola yang berdiri di “menara gading” dan untouchable yang membuat distance atau jarak terlalu tinggi, mengerdilkan  prestasi para “bawahan,” yaitu para atlet yang bertanding.  PDI setinggi itu tidak terjadi di banyak negara Eropa, atau Amerika dalam budaya barat yang menuntut kesetaraan.  Untuk sepak bola, PDI yang terlalu tinggi di dalam sebuah tim memiliki potensi merusak.

Sebenarnya, PDI yang tinggi juga terdapat di dalam budaya AsiaTenggara seperti Malaysia atau Thailand.  Lalu, mengapa mereka dapat memiliki prestasi sepak bola yang lebih baik?  Mungkin karena memiliki pelatih yang layak untuk mendapatkan penghormatan tinggi sehingga para bawahan bekerja dengan tanggung jawab.  Ingat bagaimana kepemimpinan Ong Kim Swie membawa timnas Malaysia merebut emas di SEA Games 2011?  Minimal ada 3 etnis di dalam timnas Malaysia; Melayu, keturunan India dan keturunan Tionghoa.  Namun ketundukan akibat distance yang tinggi justru menjadi kekuatan.  Karena yang di atas memang layak mendapat penghormatan.

Individualism [IDV] adalah kebalikan dari kolektivitas, di mana individu demikian dominan di dalam sebuah organisasi atau institusi.  Sebetulnya ini keuntungan, karena kerja kolektif membutuhkan individu yang mau membaur di dalam tim.  Namun jika terlalu rendah, maka akan menimbulkan sifat merendah yang kelewatan sehingga justru minder yang muncul.  Negara-negara Eropa seperti Inggris atau Belanda memiliki nilai IDV yang demikian tinggi; nilai yang berbahaya tentu saja untuk kerja kolektif seperti sepak bola.  Tak heran jika keduanya minim prestasi dibanding Brasil misalnya yang nilai IDVnya cenderung rendah.

Pembawa pembaharuan sepak bola di Jepang, Tom Byer juga mengakui bahwa sifat individualis orang Jepang sangat rendah.  Itu bagus.  Tetapi karena terlalu rendah, malah anak-anak Jepang tidak mau berusaha untuk kemampuan individu.  Itu yang menjadi perhatian Byer selama melatih anak-anak Jepang.  Maka tidak heran bukan, jika untuk skill individu, pemain-pemain Indonesia harus dikirim ke budaya yang IDV sedang seperti Uruguay dan yang  IDV tinggi, seperti Italia, Inggris atau Belanda?

Masculinity [MAS]  adalah kebalikan dari feminisme.  Masculinity berkaitan dengan pendistribusian aturan di dalam masyarakat yang didominasi pria.  Di dalam kebanyakan budaya, wanita lebih sedikit memiliki otoritas dibanding pria.  Skor untuk MAS bagi Indonesia termasuk sedang.  Sebagai olah raga yang didominasi laki-laki, sepak bola Indonesia sebenarnya memiliki harapan untuk maju.  Namun sekaligus  menjadi kesulitan amat besar bagi timnas wanita.  Mungkin butuh waktu panjang untuk memecahkan dominasi para pria.

Ini juga terjadi di Jepang.  Budaya kepemimpinan pria sangat tinggi di sana.  Imbasnya kepada timnas wanita, bahwa timnas wanita mereka demikian minim perhatian dan fasilitas.  Namun karena pengaruh barat, secara khusus Amerika Serikat melalui Tom Byer, maka timnas wanita Jepang justru mencuat ke tingkat dunia.  Ini membuat timnas wanita Jepang setara dengan negara barat yang biasanya lebih banyak menggembar-gemborkan persamaan hak antara pria dan wanita.

 Uncertainty Avoidance Index [UAI]  adalah mengenai sifat toleransi sebuah kelompok masyarakat untuk hal-hal yang tidak jelas dan ambigu, apakah mereka nyaman atau tidak dengan situasi semacam demikian.  Biasanya mereka memiliki standar kebenaran baik secara filosofis maupun religius sebagai tolok ukur.  Masyarakat yang tidak suka ambiguitas biasanya lebih emosional, dan lebih gelisah.  Sebaliknya mereka yang terbiasa dengan sesuatu yang tak pasti bersikap lebih toleran, relatif dan suka bergandengan tangan bersama-sama; lebih tenang dan merenung dan biasanya tidak diperbolehkan oleh lingkungan untuk menyatakan emosi mereka. Skor UAI untuk Indonesia termasuk rendah, sekitar 40%.  Ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita bersikap terlalu nyaman.  Tidak gelisah dengan ketidakpastian, lebih kalem. Ini bagus sebenarnya, tetapi sekaligus menghambat.  Mengapa?  Karena tidak ada kemajuan tanpa kegelisahan.  Bahkan kegelisahan merupakan salah satu kunci untuk kemajuan.  Menempatkan nyaman dan gelisah pada tempatnya dapat memicu kemajuan.  Sebaliknya, jika salah tempat, akan menjadi penghambat besar.

Jepang telah terlatih dengan hal-hal yang tak pasti, misalnya gempa.  Itu yang memicu mereka membangun banyak gedung anti gempa.  Siap dengan gempa-gempa kecil yang sering terjadi.  Maka, walau kekuatan alam melebihi teknologi manusia, tetapi ketika tsunami dan gempa melanda, malah timnas wanita mereka juara dunia, mengalahkan negara adi daya,  juara bertahan Amerika Serikat pula.  Ini terindikasi dari skor UAI mereka, yang hampir mencapai 90%.

timnas indonesia 4

            Kalau Anda mampir ke website Hofstede, Anda akan menemukan satu poin lagi yang dinamakan Long-Term Orientation [LTO].  LTO merupakan studi yang dilakukan oleh mahasiswa di 23 negara dengan menggunakan kuesioner yang dirancang oleh ilmuwan Cina yang lebih banyak didasari oleh kebijaksanaan alih-alih standar kebenaran.  LTO berbanding terbalik dengan orientasi jangka pendek STO [Short Term Orientation].  Nilai-nilai yang berkaitan dengan LTO biasanya lebih hemat dan tahan di dalam tekanan, sedangkan  nilai-nilai yang berkaitan dengan STO lebih menghargai tradisi, memenuhi kewajiban sosial dan melindungi “muka” seseorang.

            Tetapi poin ini tidak disertakan oleh Hofstede dalam grafik untuk Indonesia.  Mungkin LTO kita kurang memadai untuk disertakan?  Tetapi dari definisi untuk STO, mungkin kita masih belum sanggup berpikir jauh, dalam long term.  Masih berpikir pendek.  Bukankah itu terjadi di dalam sepak bola kita?  Misalnya mencangkok pemain menjelang even olah raga besar seperti SEA Games, Olimpiade atau Piala Dunia, namun mengabaikan pembinaan jangka panjang.  Bandingkan dengan Jepang, mereka sangat memedulikan pembinaan jangka panjang.  Dengan realistis Jepang mencanangkan untuk juara dunia di tahun 2050.  Tahukah Anda berapa skor LTO Jepang? 75%.

. . .ciri manusia Indonesia:

tidak mau (enggan atau segan) bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya

 Salah satu ciri manusia Indonesia versi Mochtar Lubis, wartawan senior (1977)

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.