Melodi 1994 untuk sepak bola Indonesia

Setelah 72 tahun merdeka Indonesia saat ini masih berada di peringkat 175 FIFA, dua kali menjuarai sea games, beberapa kali masuk final tetapi belum pernah menjuarai AFF Cup, belum pernah juara Asian Games, Piala Asia, dan belum pernah masuk dengan nama Indonesia di putaran final Piala Dunia, apalagi menjadi Juara Dunia. Jadi apakah impian dan cita-cita dari sepakbola Indonesia? Tetap, seluruh rakyat indonesia ingin mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di Putaran Final Piala Dunia & pemain Indonesia bisa mengangkat trofi Piala Dunia.

Ada sebuah lagu tahun 1994 yang pernah dipopulerkan oleh Padhayangan Project berjudul “Kop & Headen” lagu ini adalah parodi dari lagu “Close to Heaven” yang dipopulerkan oleh grup musik Color Me Badd tahun 1993. Lagu Kop & Headen dibuat dalam rangka euforia Piala Dunia 1994 yang waktu itu diselenggarakan di Amerika Serikat. Lirik lagu ini jika didengarkan saat ini (2017) masih sangat menginspirasi sepak bola Indonesia untuk terus berbenah dalam mencapai prestasi terbaik.

 

Semenjak zaman Maladi

Hingga ke zaman Ronny Pattinasarani

Mereka berjuang demi negeri

Untuk satu nama: PSSI

 

Lirik awal dari lagu ini kurang lebih seperti diatas, ada nama-nama pemain legendaris Indonesia yang pernah berjaya di zamannya, mulai dari Maladi yang merupakan kiper pertama tim nasional Indonesia yang juga adalah mantan tentara nasional, dan kemudian nama Ronny Pattinasarani, kapten penuh kasih, anak Ambon yang merupakan legenda PSM Makassar dan bersama tim nasional pernah mengguncang asia & dunia. Di baris ketiga menyatakan “mereka berjuang demi negeri, untuk satu nama PSSI” yang menyiratkan bahwa sejak jaman dahulu sampai sekarang ada banyak sekali nama-nama pemain legendaris yang terus berjuang dengan gigih untuk kemajuan sepak bola Indonesia.

 

Namun kini zamannya telah berganti

Pemain seringnya malah berkelahi

Permainan sudah tidak fair lagi

Hanya jadi ajang beladiri

 

Bait selanjutnya dari lagu ini berisikan gambaran tegas tentang kondisi sepak bola Indonesia. Atmosfer sepak bola Indonesia terlihat berubah, pemain sering bentrok dan berkelahi, fairplay sering tidak dipraktekan, sepak bola lebih terlihat seperti ajang beladiri. Pesan ini langsung ditujukan kepada para pemain bola, bahwa sering pemain lupa untuk mempraktekan fairplay. Keinginan untuk selalu menang menjadi dorongan untuk melakukan hal-hal yang tidak fairplay di lapangan, dan hal ini masih terjadi sampai sekarang.

Sadarilah, bila, bermain bola

Lawan jangan cedera

Sadarilah, bila,

dia sengsaraKita jadi bikin dosa

 

Refrain pertama dari lagu ini masih melemparkan pesan tegas kepada pemain sepak bola. “lawan jangan sampai cedera” ini mungkin pesan yang sangat langka saat ini, bahkan pelatih sepak bola saat ini pun sangat jarang memberikan pesan ini kepada pemainnya. Tetapi ini salh satu nilai penting saat bermain sepak bola, meskipun mereka adalah lawan kita tetapi mereka juga tetap adalah saudara kita, mereka juga manusia yang tetap perlu kita kasihi. Untuk itu selain mengeluarkan skill tingkat tinggi saat pemain bermain sepakbola, diharapkan cara pemain mengambil bola atau melakukan tackle atau gerakan apapun jangan sampai mencederai lawan. Ingat kalau kita memiliki maksud saja untuk mencederai lawan meskipun itu belum dilakukan, sebenarnya kita sudah berosa, apalagi sampai lawan kita itu benar-benar sampai cedera.

 

Wasit ada di posisi yang rumit

Karena keputusannya yang sulit

Tak heran pemain banyak yang berkelit

Mengejar wasit terbirit-birit

 

Sadarilah, bila,

di sepak bola Ingat aturannya

Sadarilah, bila,

di sepak bolaWasit berkuasa

 

Kemudian di bait selanjutnya tersirat pesan untuk wasit, karena salah satu unsur penting di pertandingan sepak bola adalah wasit. Sang pengadil pasti akan selalu berada di posisi yang rumit karena dia harus bersikap netral saat mengambil keputusan. Sepak bola indonesia akan maju jika wasit Indonesia mampu bersikap dan bertindak profesional, berani mengambil keputusan meskipun dibawah tekanan dan praktek sogok yang seringkali terjadi. Praktek pengambilan keputusan yang salah seringkali mengecewakan pemain dan tim sehingga memang masih terjadi sampai saat ini wasit didorong, dikejar, bahkan dipukul. Tetapi hal tersebut adalah hal yang salah, semua pemain dan ofisial harus belajar menghargai keputusan wasit dan tetap mempercayakan PSSI untuk menilai mana wasit yang baik dan yang tidak kemudian mengambil tindakan tegas. Wasit adalah penguasa lapangan dan diharapkan bijak dalam memimpin pertandingan, siapapun kita yang ingin atau sedang menjadi wasit harus tetap ingat akan hal tersebut.

 

Ayo maju, mencetak gol harus jitu

Nendang jangan ragu

Oper sana oper sini

Awas kena penalti

 

Kembali lagi ke pemain, lagu ini mengingatkan masalah kualitas pemain dalam pertandingan. Saat mencetak gol jangan asal-asalan, setiap tendangan ataupun operan sebaiknya mempertimbangkan arahbola, kekuatan tendangan, serta timing yang tepat. Saat menendang pemain tak boleh ragu karena akan terjadi bola yang melayang ke langit, atau bola yang tak jelas arah sehingga ada pepatah “hanya dia dan Tuhan yang tahu arahbolanya”. Untuk itu latihan dan latihan dan latihan memang perlu terus dilakukan pemain dari hari ke hari. Jika pemain sudah dapat melakukan satu gerakan atau tendangan terarah, tidak boleh cepat puas terus tidak melatih hal tersebut lagi. Pemain harus melakukan latihan terus menerus sehingga kualitas tendangannya terus dapat dipertahankan.

 

Penonton pun harus sadar diri

Berikanlah dukungan yang berarti

Dan junjunglah sportivitas yang tinggi

Menuju sepak bola prestasi

 

Sadarilah, bila,

penonton tertib

Kita pun bergembira

Sadarilah, bila,

penonton tertib

Bukan cari gara-gara

 

Pesan selanjutnya dari lagu ini adalah untuk penonton dan supporter semua tim yang ada di Indonesia dan Tim Nasional Indonesia. Intinya adalah harus sadar diri, jadi supporter yang positif bukan merusak, jadi supporter yang memberikan dukungan berarti dan menjunjung sportivitas tinggi bukan malah memperburuk persaudaraan antar supporter dan berkelahi satu sama lain sehingga jatuh korban luka bahkan sampai meninggal di stadion. Penonton dan supporter sering tidak tertib, masuk stadion tidak antri, bahkan kadang tidak beli tiket, di dalam stadion berlaku liar, saat pulang sampah berserakan dimana-mana, dan hal-hal ini masih terjadi sampai sekarang. Bandingkan dengan supporter jepang yang tertib mendukung timnya di stadion, jika timnya kalah memberikan tepuk tangan untuk tim lawan, saat selesai pertandingan memungut sampah disekitar mereka. Hal-hal ini yang patut kita contoh dari tim-tim besar yang pernah masuk Piala Dunia. Jika supporter dan penonton benar-benar memberikan dukungan positif kepada pemain maka pemainpun akan bermain dengan semangat dan berusaha memberikan yang terbaik sehingga sepak bola kita bisa berprestasi.

 

Ruud Gullit, Van Basten dan Maradonna

Contoh pemain kelas duniaYang telah ternama

Sucipto, Suntoro, Anjas Asmara

Nobon, Oyong Liza, Ronny Pasla

Semua pernah jaya

 

Kang Jajang, Kang Asep, Kang Tatang, Bu Yati

Mereka bukan pemain bola atuh

Mereka itu adalah saudara saya semua

 

Paling top adalah Abdul Kadir

Mencetak gol dari pinggir

Kipernya pun terjungkir

 

Menahan tendangan bagaikan petir

Jala terkoyak, penonton sorak

Kiper terkilir

Mereka harus ditiru

Sepakbola harus fair play

 

Kemudian lagu ini menyebutkan sederet nama besar yang patut menjadi contoh seorang pemain sepak bola yang berkualitas, mulai dari ruud gulit, van basten, maradona yang di tahun 1994 sangat terkenal. Bintang-bintang Indonesia juga disebutkan seperti sucipto, anjas Asmara, Ronny Pasla dsb. Jika ingin menjadi pemain sepak bola maka kualitasnya harus sama dengan mereka. Dan akhirnya lagu ini ditutup dengan pesan Sepak bola harus fair play.

Pesan dalam lagu parodi Padhayangan Project ini terdengar sangat sederhana, tetapi sejak lagu ini dinyanyikan tahun 1994 sampai sekarang tahun 2017, permasalahan sepak bola di Indonesia masih tidak jauh berbeda dari lirik lagu ini. Pemain masih belum terlalu berkualitas, masih berkelahi satu dengan yang lain, wasit belum berkualitas, masih banyak keputusan yang tidak adil saat pertandingan, penonton masih tidak tertib, tidak sopan, dan tidak bersih. Jadi kapan Indonesia ingin masuk Piala Dunia? Mungkin pertanyaan tersebut harus terus diingat semua pencinta sepak bola tanah air, entah dia seorang pemain, pelatih, wasit, penonton, ataupun pengurus PSSI, sehingga tahu peran masing-masing dalam memajukan sepak bola Indonesia. Garuda di dadaku itu bukan hanya ada di jersey tim nasional Indonesia, tetapi garuda itu harus ada di hati setiap orang yang cinta akan sepak bola Indonesia. Maju terus sepak bola Indonesia.

 

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.