one

Kalau di tingkat dunia kita mengenal Negara Belanda dengan julukan “juara tanpa mahkota”, maka di Asia Tenggara kekuatan sepak bola Tim Nassional Indonesia juga mendapat julukan yang sama. Hal ini dikarenakan Tim Nasional Indonesia belum pernah mengangkat Piala AFF sampai saat ini (2016) meskipun telah 4 kali masuk di babak final.

Sejarah Piala AFF dimulai sejak tahun 1996, AFC memutuskan untuk mengadakan kejuaraan sepak bola di level asia tenggara dan diberi nama Piala Tiger (diambil dari nama sponsor utama kejuaraan ini yaitu perusahaan Bir Tiger Singapura). Pagelaran perdana kejuaraan ini dilangsungkan 1-15 September 1996 di negara Singapura dan diikuti oleh 10 negara. Negara Indonesia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja berada di grup A. Sedangkan Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina berada di grup B. Indonesia menjadi juara grup A dengan hasil dan perolehan gol yang sangat memuaskan, bahkan beberapa pengamat sepak bola sempat memprediksikan Indonesia bakal merebut Piala Tiger edisi pertama ini. Nama-nama besar seperti Fachri Husaini, Eri Irianto (alm), Kurniawan Dwi, Robby Darwis, Peri Sandria, Ansyari Lubis, menunjukan penampilan yang luar biasa di babak grup, tetapi antiklimaks terjadi di babak semifinal ketika Indonesia menghadapi Malaysia. Sanbagamaran, Rosdee, dan Rahman membuat Malaysia unggul 3-1 dan bahkan satu-satunya gol Indonesia juga adalah hasil own goal pemain Malaysia Azmil Azali. Di babak final Malaysia menghadapi Thailand dengan hasil akhir 1-0 untuk kemenangan Thailand. Satu-satunya gol yang tercipta saat itu dibuat oleh pemain legendaris yang saat ini menjadi pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang.

Di Tahun 1998 (26 Agustus – 5 September) Penyelenggaraan AFF Tiger Cup dilaksanakan di Vietnam. Tim nasional Indonesia asuhan Rusdi Bahalwan diperkuat dengan nama-nama besar seperti Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Kurnia Sandi, Mursyid Effendi, Hartono, Yusuf Ekodono, Bima Sakti, Kurniawan Dwi, Miro Baldo Bento, Widodo C. Putro, Uston Namawi, dan Hendro Kartiko. Nama-nama tersebut cukup menjanjikan untuk membuat Indonesia menjuarai AFF edisi kedua ini, apalagi Indonesia langsung lolos ke babak 2 penyisihan grup sebagai Juara ke 4 di pagelaran AFF 1996. Tetapi lagi-lagi impian Indonesia harus sirna karena di babak penyisihan grup terjadi sebuah insiden yang sangat memalukan Indonesia dan Thailand. Kedua negara ini memainkan sepak bola negatif sebagai upaya untuk menghindari tuan rumah Vietnam di babak semifinal. Indonesia kalah 3-2 dari Thailand, tetapi gol kemenangan Thailand bukan dicetak oleh pemain Thailand melainkan dicetak pemain Indonesia Mursyid Effendi ke gawang sendiri. Setelah mencetak gol bahkan Mursyid sempat melakukan selebrasi tepuk tangan dan tindakan tersebut memicu FIFA untuk melakukan penyelidikan dan menjatuhkan sanksi denda kepada Thailand dan Indonesia, serta menghukum Mursyid tidak boleh membela Indonesia di laga Internasional lagi seumur hidup. Indonesia melaju dan kalah di babak semifinal dari Singapura dan di perebutan tempat ketiga Indonesia juga kalah dari Thailand sehingga Indonesia menempati posisi keempat. Di babak final Singapura berhasil mengalahkan tuan rumah dengan skor 0-1 dan menjadi prestasi terbaik setelah proses panjang pembentukan Tim Nasional mereka.

dua

Penyelenggaraan Piala AFF Tahun 2000 (di Thailand), 2002 (di Indonesia & Singapura), dan 2004 (di Malaysia & Vietnam) adalah tahun-tahun dimana Tim Nasional Indonesia berhasil melaju sampai final Piala AFF. Di tahun 2000 (5-18 November) Tim Nasional bertanding di Thailand dengan beberapa muka bintang baru di skuad seperti Ismed Sofyan, Eduard Ivakdalam, Imran Nahumarury, Yaris Riyadi, Rochy Putiray, Bambang Pamungkas, dan Gendut Dony. Pelatih Tim Nasional saat itu adalah Nandar Iskandar dan berhasil menunjukan permainan yang atraktif di babak penyisihan dan semifinal. Tetapi saat bertanding di final Tim Nasional dikalahkan tuan rumah Thailand dengan skor 4-1 yang saat itu memang tampil sangat perkasa sejak babak penyisihan, dan juga pernah mengalahkan Tim Indonesia di babak penyisihan dengan skor yang sama 4-1.

Di tahun 2002 (15-29 Desember) Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah kejuaraan ini. Tetapi tidak menjadi tuan rumah tunggal, melainkan bersama Singapura menjadi tuan rumah. Kemeriahan supporter yang selalu mengiringi stadion tempat Tim Indonesia bermain membuat semangat para pemain tetap terjaga sampai di partai puncak. Tetapi sekali lagi di partai puncak laju Indonesia harus terhenti setelah dikalahkan musuh klasik Thailand lewat permainan normal 2-2 dan kemudian adu penalty 4-2. Saat itu Tim Nasional dipimpin oleh pelatih asal Bulgaria Ivan Kolev dan ada beberapa nama bintang baru di skuad Garuda seperti Jedry Pitoy, Aples Techuari, Elie Aboy, I Putu Gede, dan Budi Sudarsono. Piala AFF edisi ke 4 ini juga mencatatkan kemenangan terbesar Tim Nasional sepanjang sejarah pertandingan internasional yaitu ketika menang 13-1 atas Filipina.

Di tahun 2004 (7 Desember 2004 – 16 Januari 2005) Tim Nasional Indonesia dipimpin pelatih Peter White untuk kembali mencoba meraih juara Piala AFF. Target untuk menjadi juara saat itu dirasa sangat masuk akal dikarenakan selama babak penyisihan grup Tim Nasional Indonesia tidak pernah kemasukan satu gol pun, bahkan tim tuan rumah Vietnam dibantai 0-3 di depan pendukungnya sendiri. Indonesia saat itu memiliki skuad yang sangat lengkap di setiap lini, nama-nama seperti Hendro Kartiko, Jack Komboy, Charis Yulianto, Ismed Sofian, Ortizan Saloza, Mahyadi Pangabean, Elie Aboy, Ponaryo Astaman, Firman Utina, Syamsul haeruddin, Ilham Jayakusuma, Kurniawan Dwi, Saktiawan Sinaga, dan Wonder Boy Boaz Saloza, seolah telah memperjelas kekuatan Garuda. Setelah tidak kemasukan gol di babak penyisihan, Indonesia dikejutkan oleh kekalahan dari Malaysia 1-2 di stadion utama Bung Karno. Tetapi ada kejutan yang lebih besar yaitu ketika Indonesia berhasil bangkit dengan permainan atraktif dan menghancurkan Malaysia 1-4 di stadion kebanggan mereka Bukit Jalil. Serentak tanah air diguncangkan dengan kemenangan fenomenal tersebut, tetapi kemenangan tersebut tidak dapat diakhiri dengan sempurna sampai mengangkat Piala AFF, di final Tim Nasional Garuda dikalahkan Singapura dengan agregat tandang kandang 5-2. Pada tahun 2004 ini saudara sedarah Indonesia yaitu Negara Timor Leste mencatatkan keikutsertaan mereka yang pertama di Piala AFF.

lima

Setelah ketiga kesempatan tersebut, Tim Nasional tidak juga berhasil membuahkan kenangan manis. Dua kali dikalahkan Thailand di final 2000 & 2002, serta menerima kekalahan dari Singapura di final tahun 2004 mencatatkan cerita manis tentang keperkasaan Garuda di tiga kali pagelaran piala AFF tetapi seakan-akan terlupakan dari sejarah karena tak dapat menuntaskan perjuangan sampai menjadi juara. Istilah “Juara tanpa mahkota” pun diberikan kepada Tim Nasional Indonesia.

Di tahun 2006 dikarenakan pihak Tiger Beer Singapura tidak mau memperpanjang kontrak sebagai sponsor utama Piala AFF, maka penyelenggaraan kejuaraan inipun agak mundur dari tahun 2006 ke tahun 2007 (12 Januari – 4 Februari). Tim Nasional Indonesia datang dengan pelatih yang sama yaitu Peter White tetapi dengan skuad yang kurang menggigit, alhasil langkah Tim Nasional Indonesia terhenti di babak penyisihan grup. Sebenarnya pada babak penyisihan grup Tim Nasional Indonesia tidak pernah kalah sehingga point yang diperoleh sama dengan Singapura di posisi pertama dan Vietnam sebagai runner up grup yaitu 5 point, tetapi Indonesia kalah selisih gol sehingga hanya menempati posisi ketiga di grup. Piala AFF tahun inipun dimenangkan oleh Singapura setelah mengalahkan Thailand dengan agregat tandang kandang 3-2.

Di tahun 2008 (5 – 28 Desember 2008) Indonesia dan Thailand kembali dipercaya untuk menjadi tuan rumah kejuaraan ini. Piala AFF di tahun 2008 tampil dengan nama baru yaitu AFF Suzuki Cup, karena pihak Suzuki resmi menjadi sponsor utama. Tim Indonesia tampil dengan pelatih lokal di pagelaran kali ini yaitu Coach Beni Dolo, dan juga terdapat beberapa nama bintang baru seperti Markus Horrizon, Nova Arianto, M.Roby, Erol Iba, Fandy Mochtar, Wijay, M.Ilham, Aliyuddin, dan Abdul Musafri. Pada babak penyisihan grup Indonesia hanya mampu menang dari Myanmar dan Kamboja, serta kalah dari Singapura 0-2 di depan pendukung sendiri. Indonesia tetap melaju ke babak semifinal sebagai runner up grup, tetapi seperti yang sudah diprediksi sebelumnya bahwa Indonesia tidak menunjukan permainan yang menjanjikan dan akhirnya kalah dari Thailand dengan agregat tandang kandang 3-1. Pagelaran Piala AFF kali ini akhirnya dijuarai oleh Vietnam setelah di final mengalahkan Thailand dengan agregat tandang kandang 3-2.

Di tahun 2010 (1-29 Desember 2010) Piala Asia kembali diselenggarakan di Indonesia dan Vietnam. Tim Indonesia dipimpin oleh pelatih bertangan dingin asal Austria Alfred Riedl. Harapan besar berada di pundak pelatih ini karena Alfred berhasil membuat Vietnam menjuarai AFF 2008. Hal ini juga terkesan tidak berlebihan melihat hasil babak penyisihan Indonesia yang terbilang cukup gemilang, Tim Nasional Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia 5-1, kemudian mengalahkan Laos 6-0, serta mengalahkan Thailand 2-1. Hal ini membuat Tim Nasional menduduki juara grup, disusul Malaysia, dan Thailand yang harus pulang cepat. Mendadak pencinta sepak bola tanah air sangat mengidolakan Tim Nasional Garuda dan nama-nama seperti Markus Horrison, Ahmad Bustomi, Firman Utina, M.Robby, Okto Maniani, M.Ridwan, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, dan Bambang Pamungkas melejit ke permukaan. Di babak semifinal Tim Nasional mengalahkan Filipina dengan agregat 2-0. Di babak final Indonesia kembali bertemu Malaysia yang di babak penyisihan dihancurkan 5-0. Tetapi kembali lagi sejarah tidak berpihak kepada Tim Nasional Indonesia, Tim Malaysia belajar dari kekalahan mereka dan menyiapkan strategi baru untuk menghadapi Tim Indonesia. Di pertandingan pertama di Malaysia Tim Nasional Indonesia dikalahkan Malaysia dengan skor 3-0, dan di pertandingan kedua Tim Indonesia mencoba bangkit tetapi hanya mampu menang dengan skor 2-1 di Jakarta. Tim Nasional Indonesia beserta semua fans tanah air sekali lagi hanya dapat melihat Tim Nasional Malaysia mengangkat piala AFF di Stadion kebanggaan Gelora Bung Karno dan menjadi kali keempat Tim Nasional Indonesia bertanding di final tanpa berakhir dengan mengangkat Tropi Piala AFF.

tujuh

Tahun 2012 adalah tahun dimana sepak bola Indonesia sedang berada dalam titik terendah. Masalah internal PSSI, dualisme kepemimpinan, dan dualisme liga membuat skuad Tim Nasional Indonesia tidak bisa turun dengan kekuatan penuh. Pelatih kepala saat itu dipercayakan kepada seorang pelatih muda berbakat Nil Maizar, tetapi pelatih ini tidak dapat berbuat banyak. Andik firmansyah dan rekan-rekan hanya dapat bermain sampai penyisihan grup meskipun di dalam skuad Garuda saat itu terdapat beberapa pemain naturalisasi baru. Pagelaran Piala AFF edisi ke-9 yang diselenggarakan dari tanggal 24 November – 22 Desember 2012 di Malaysia & Thailand ini kemudian dimenangkan oleh Singapura setelah di babak final mengalahkan Thailand dengan agregat kandang tandang 3-2.

Tahun 2014 (22 November – 20 Desember) pagelaran piala AFF dilaksanakan di Vietnam dan Singapura. Tim Nasional Indonesia kembali ditangani pelatih Alfred Riedl dan kali ini masih dengan misi yang sama yaitu ingin menjuarai Piala AFF untuk pertama kalinya. Perpaduan pemain naturalisasi seperti Victor Igbonebo, Sergio Van Dijk, Rafael Maitimo, dan Christian Gonzales, dengan pemain muda dari Tim Nasional usia 19 seperti Evan Dimas, ditambah beberapa pemain berpengalaman seperti Firman Utina, Ramdhani Lestaluhu, dan Muhamad Ridwan seakan-akan merupakan skuad yang solid. Tetapi ternyata kondisi persepakbolaan yang tidak kondusif di dalam negeri serta Liga Indonesia yang masih bermasalah menjadi penyebab buruknya penampilan Tim Nasional Indonesia di AFF 2014. Pada babak penyisihan grup Indonesia seri dengan Vietnam 2-2, kalah dari Filipina 4-0, serta hanya menang dari Laos 5-1. Tim Nasional Indonesia hanya duduk di peringkat 3 penyisihan grup sehingga harus pulang lebih cepat dan impian untuk menjadi juara lagi-lagi sirna.

Selama mengikuti sepuluh kali Piala AFF, Tim Nasional Indonesia belum pernah mengangkat Trofi Juara, empat kali masuk babak final, satu kali menempati peringkat ketiga, dua kali menempati tempat keempat, dan tiga kali tidak lolos babak penyisihan grup. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah bisa Indonesia menjuarai Piala AFF?, Jawabannya PASTI BISA tetapi semuanya harus dimulai dengan proses yang benar. Pembentukan kepengurusan PSSI yang benar, pembinaan usia muda yang benar, pembenahan Liga Indonesia dengan sistem yang benar, seleksi Tim Nasional yang benar, adalah beberapa proses yang harus dijalankan dengan benar jika kita Ingin melihat Tim Nasional kita menjuarai Piala AFF.

empat

Di Piala AFF 2016 yang akan diselenggarakan di Myanmar & Filipina bulan November – Desember, Tim Nasional Indonesia akan kembali memulai debut Internasional setelah dihukum FIFA akibat persoalan pembekuan PSSI. Tim ini akan dipimpin pelatih Alfred Riedl dan pemain-pemain terbaik juga telah diseleksi untuk kejuaraan ini. Empat kali pertandingan uji coba telah dijalani dan hasilnya cukup memuaskan. Hasil maksimal tentunya diharapkan oleh semua rakyat Indonesia, tetapi harus tetap realistis atas apapun pencapaian yang akan diraih oleh Tim Nasional Indonesia. Suatu saat jika kita bersama-sama dapat membangun fondasi sepak bola Indonesia dengan benar, bukan hanya akan menjadi Juara di Piala AFF, Tim Nasional Indonesia juga mungkin dapat menjuarai Piala Asia, dan bahkan lolos ke putaran final Piala Dunia.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.