Pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh insan sepakbola di negeri ini adalah “kapan Indonesia bisa masuk Piala Dunia ?” Pertanyaan ini paling sering ditanyakan karena seluruh rakyat Indonesia rindu untuk melihat Garuda berprestasi di tingkat Internasional. Tentunya bukan hal mudah untuk mencapai Piala Dunia, dibutuhkan proses yang panjang untuk bisa menampilkan kualitas kelas dunia dan untuk dapat menghasilkan pemain-pemain yang mau mempersembahkan hidup mereka untuk kejayaan bangsa.

Ukraina adalah sebuah negara besar di Eropa Timur. Negara ini adalah negara pecahan Uni Soviet yang merdeka pada tahun 1991. Ukraina memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang dan merupakan salah satu bangsa eropa timur yang memiliki nilai kebudayaan yang tinggi. Olahraga paling popular di negara ini adalah sepak bola karena olahraga yang satu ini telah berkembang di Ukraina sejak awal abad-19. Tetapi satu hal yang menarik adalah Negara Ukraina untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia adalah di tahun 2006. Sebelum tahun 2006 mungkin perasaan seluruh insan sepakbola di Ukraina adalah seperti yang kita rasakan sekarang di Indonesia.

ukraina 2006

Andriy Mykolayovych Shevchenko adalah salah satu nama pemain yang berjasa besar untuk sepak bola Ukraina. Dia adalah kapten Tim Nasional Ukraina yang berhasil lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya di tahun 2006. Shevchenko sendiri adalah pemain yang sangat berbakat sehingga dia mampu mencapai beragam prestasi fenomenal termasuk mendapatkan Ballon d’Or pada tahun 2004. Rakyat Ukraina sangat mengagungkan dia dan bagi mereka dia adalah pahlawan mereka. Tetapi ada yang menarik dari sikap Shevchenko menanggapi pujian masyarakat Ukraina. Shevchenko berpendapat bahwa dia tidak pantas mendapatkan gelar Pahlawan bagi rakyat Ukraina. Bagi Shevchenko pahlawan sebenarnya bagi rakyat Ukraina adalah orang-orang tidak dikenal yang menjadi sukarelawan untuk penanganan bencana Chernobyl.

Shevchenko ingat betul peristiwa masa kecilnya yang memberikan luka mendalam bagi rakyat Ukraina. Di usia 10 tahun Shevchenko saat itu mendengar ledakan sangat besar dari reaktor nuklir di kota Chernobyl. Dampak dari peristiwa tersebut dia dan keluarganya harus mengungsi ke kota lain untuk menghindari dampak jangka panjang dari radiasi reaktor nuklir tersebut. Menurut Shevchenko saat itu pemerintah ukraina bergerak sangat lambat untuk mengevakuasi penduduk sekitar reaktor nuklir tersebut. Penduduk dibiarkan tinggal di daerah gelap tanpa penerangan selama beberapa hari. Sementara itu regu pemadam kebakaran dan regu SAR diterjunkan ke lokasi reaktor nuklir dengan peralatan dan pengamanan seadanya. Kebanyakan dari personil regu pemadam kebakaran dan tim SAR tidak tahu resiko yang bakalan mereka dapatkan ketika mendekat ke reactor nuklir tersebut. Melihat kondisi tersebut banyak sukarelawan yang datang untuk membantu ke lokasi Chernobyl. Relawan-relawan tersebut membantu menguburkan limbah uranium yang berbahaya. Mereka tidak menggunakan peralatan dan pengamanan yang canggih ketika berusaha mendinginkan reaktor. Dengan sekop dan berbekal sarung tangan mereka memungut bongkahan uranium yang mongering, hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran radioaktif.

“Para relawan tersebut bekerja dua hari penuh, mereka enggan untuk berhenti karena tahu bahwa nyawa sebagian besar penduduk ada di tangan mereka. Beberapa hari kemudian mereka memang meninggal. Saya pikir mereka sudah tahu resiko tersebut sebelum memutuskan untuk menjadi sukarelawan. Bagi saya merekalah Pahlawan yang sebenarnya!” Ujar Sheva.

Berkat pengorbanan sukarelawan-sukarelawan tak dikenal ini, Sheva dan ribuan orang Ukraina selamat dari radiasi radioaktif akibat bencana Chernobyl tersebut. Itulah sebabnya Shevchenko tak mau menerima gelar pahlawan untuk dirinya meskipun berhasil mengantarkan Ukraina untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia 2006 dan mencatat sejarah. Bagi Shevchenko sudah sepantasnya dia berjuang untuk mendisiplinkan dirinya dari kecil sampai menjadi pemain professional yang mempertunjukan kualitas terbaik demi untuk Ukraina. Bagi dia keringat terbaik yang diberikan untuk bangsa adalah wujud penghormatannya untuk pahlawan-pahlawan Ukraina yang mau mengorbankan nyawa mereka demi masa depan Ukraina yang lebih baik.

sheva 2006

Setiap pemain sepak bola di Indonesia seharusnya belajar memiliki hati yang menghargai, semangat yang tak pernah padam, dan hidup yang mau rela berkorban dari seorang Shevchenko. Sehingga keringat terbaik dapat dipersembahkan untuk prestasi sepak bola Indonesia. Jika dahulu kala telah banyak pahlawan-pahlawan bangsa yang mau mati demi masa depan Indonesia yang lebih baik, sudah seharusnya saat ini kita persembahkan keringat terbaik untuk mengharumkan nama bangsa di pentas dunia! Maju terus sepakbola Indonesia.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.