fcbarcelona

Banyak tim memiliki pola permainan yang baik, namun sedikit yang melegenda. Barcelona adalah salah satunya. Dari beberapa sumber, saya simpulkan pola permainan mereka yang merupakan hasil modifikasi cara bermain total football timnas Belanda di tahun 70-an pada era pelatih Rinus Michels.  Namun tulisan ini dibuat bukan sekadar mengerti pola permainan Barcelona, namun juga inspirasi yang timbul darinya, sehingga pola ini menjadi inspirasi bagi segala bidang. Tulisan ini dibuat oleh kami yang bukan fans Barcelona, tetapi terinspirasi oleh nilai postif yang dapat memajukan sepakbola Indonesia dari cara Barcelona bermain sepakbola.

            Hidup itu adalah tentang berbagi: passing.  Barcelona kaya dengan hal ini.  Pola serang selalu mereka lakukan dengan umpan-umpan mendatar.  Bola tinggi hanya ketika dibutuhkan dan tak ada pilihan untuk selalu bermain di tanah.  Kemudian bola selalu diarahkan dari kaki ke kaki dengan jarak yang dekat.  Bermain dengan jarak jauh hanya saat dibutuhkan dan tak ada pilihan.  Ternyata banyaknya umpan pendek ini [short pass] sangat membingungkan lawan dan secara tak sadar lawan justru menciptakan jarak di sisi lain lapangan.  Long passing dilakukan hanya untuk membuat serangan lebih maju atau untuk memindahkan titik serang, dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

            Mereka menjalankan pola kerja yang kreatif.  Ya, mereka selalu bermain membentuk pola segitiga sambil melakukan banyak putaran dengan kreativitas yang tak terduga.  Umpan pendek terus menerus silih berganti di antara pemain akan melelahkan lawan yang ketat menjaga mereka.  Passing mereka tak terduga; passing ke belakang, passing menerobos, passing ke depan, dan passing ke segala arah.  Jarang sekali mereka melakukan solo run atau lari sendirian jarak jauh dengan menggiring bola.  Filosofinya adalah: kalau bisa passing mengapa harus lari jauh-jauh?  Lagi pula banyak passing dengan sedikit lari jarak jauh lebih menghemat energi.  Bahkan, mereka menjadikan kiper bukan sekadar menjaga gawang, tetapi sebagai jantung pertahanan terakhir yang harus memiliki kemampuan untuk mendistribusikan bola dari kaki ke kaki.  Dengan demikian, kreativitas mereka efektif, bukan?

            Mereka pun bekerja secara bertahap mulai dari yang paling dasar.  Mulai dari sisi lapangan belakang [tahap 1], tengah [tahap 2] dan depan [tahap 3], dan tidak ada perbedaan antara tahap pertama, kedua dan ketiga.  Semua tahap tersebut dilakukan dengan umpan-umpan pendek yang membingungkan.  Mereka lebih suka membangun serangan dari tahap 1, yaitu dari belakang.  Mengapa?  Karena ternyata lebih mudah untuk membangun serangan dari belakang karena ketika lawan menekan dengan kuat di sisi pertama mereka.  Justru lawan terjebak karena tanpa sadar sedang  membuka ruang di sisi belakang mereka sendiri.

            Tiki-taka telah membuka mata kita akan apa yang mungkin sering dilupakan seorang  pemain bola sekalipun.  Susahnya, ini justru hal yang sangat krusial, bahwa yang namanya main bola, ya, harus bermain dengan bola.  Itulah sebabnya mengapa harus dengan sungguh-sungguh memerhatikan bola. Mereka fokus pada faktor utama.

Tetap jaga mata untuk melihat arah bergulirnya bola.  Bola selalu dijaga agar selalu di tanah dan jagalah bola itu dengan kaki, jangan membuat passing terlalu keras, main cepat tetapi tidak terburu-buru.  Jaga bola dalam kebersamaan dalam tim, sambil terus menerus mengubah titik serang.  Untuk itu, sangat dibutuhkan kesabaran dan ketenangan.  Menjaga penguasaan bola sebagai tim menjadi prioritas utama daripada terburu-buru ke depan untuk mencetak gol.  Mereka terbiasa dengan pola kerja yang penuh kesabaran dan ketenangan.

            Xavi mengatakan, “Siapa yang memiliki bola adalah penguasa permainan.”  Maka pemain Barcelona harus terus memiliki bola, baik saat penyerangan maupun pertahanan. “Ketika kamu memiliki bola, kamu dapat mendikte tempo permainan,” ujar Xavi.  Ternyata secara mental, jauh lebih mudah untuk bermain dengan bola daripada mengejar-ngejar bola. Semakin lama menjaganya, makin frustasi dan kelelahan lawan dan cepat atau lambat akan ada celah yang dapat diterobos.  Menjaga bola, sekaligus merupakan kerja pertahanan.  Ketika menjaga bola, otomatis lawan tak bisa mencetak gol.  Mereka menguasai apa yang mereka lakukan.

            Semenjak Guardiola mengambil alih Barca tahun 2008, timnya tak pernah kurang dari 50% dalam penguasaan bola di 182 pertandingan resmi.  Mereka selalu menerapkan tekanan tinggi.  Ketika sedang tidak memiliki bola, seluruh tim harus kerja keras untuk meraihnya dan kembali sesegera mungkin.  Hampir semua anggota tim di sisi lawan, yang membuat mereka kesulitan. Tekan mereka sehingga melakukan kesalahan sendiri, namun jangan membuat pelanggaran.  Adalah sangat berbahaya jika memenangkan bola di jarak 30 m dari gawang. Filosofi Guardiola adalah,“Ketika kamu memenangkan bola kembali hanya ada 30 meter dari gawang dari pada 80 meter.”  Artinya, penguasaan bola membuat jarak yang renggang terasa demikian dekat.  Mereka menikmati permainan sehingga hamparan luas lapangan tak melelahkan mereka.

Mengenai posisi pemain, mereka harus mampu berperan di dalam dua posisi.  Mereka nyaris serba bisa, ahli di dalam berkarya.  Mereka  mengatakan, “Kami adalah pertahanan yang menyerang.  Kami penyerang yang bertahan.”  Itulah sebabnya mengapa mereka menerapkan high defenssive line [garis pertahanan yang lebih maju].  Di dalam kekompakan, mereka membuat lapangan “besar” dan “kecil.”  Ketika bertahan,  mereka membuat lapangan menjadi “kecil” dengan merapatkan barisan sehingga lawan serasa tak memiliki ruang untuk mengumpan.  Bayangkan, 20 pemain di lapangan dalam area 1.000 m2 sedangkan Camp Nou 7.140 m2.  Namun ketika memenangkan bola mereka tiba-tiba membuat lapangan menjadi “besar.”  Mereka menciptakan suasana “tempat kerja” mereka yang nyaman.

fc-barcelona-wallpaperDisimpulkan dari beberapa video di YOUTUBE

–          Barcelona Philosophy

–          Understand Tiki Taka Football (Episode 1)

–          Understand Tiki Taka Football (Episode 2)

–          FC Barcelona Tactics under Pep Guardiola

Saya menyimpulkan bukan hanya berkaitan dengan sepak bola, namun memikirkan team serve di segala wilayah organisasi kerja.  Apa itu team serve?  Ini merupakan mutasi dari team work.  Dengan demikian, sekumpulan orang yang berkarya di dalam satu wadah tak dapat lagi disebut sebagai organisasi, tetapi telah bermutasi menjadi organisme.

Keberhasilan Barcelona justru karena mengupayakan sesuatu yang paling mutakhir, paling canggih.  Namun yang paling mutakhir nan canggih itu justru yang paling kuno, yang paling mundur ke belakang, yaitu kembali kepada sejatinya manusia apa adanya; relationship, kepercayaan, visi, dan kekeluargaan.  Menonton Barcelona adalah melihat sekumpulan keluarga bermain bola dalam mengupayakan yang terbaik.  Pencapaian tertinggi dalam diri manusia.

   Walau demikian, kita perlu juga melihat pro dan kontra Barcelona, misalnya komentar beberapa pihak mengenai seringnya para pemain melakukan diving, banyak kemenangan karena kartu merah di pihak lawan, dan tentu saja Barcelona terdiri dari manusia-manusia terbatas yang juga memiliki kelemahan.  Namun biar bagaimana pun, mereka telah menginspirasi.

Nah, terinspirasi dari pola kerja tingkat dunia tidak perlu bayar tiket mahal ke luar negeri, atau biaya pendidikan tinggi di lembaga pendidikan mahal.  Dengan kegairahan belajar, nonton Barcelona [dan tim-tim terbaik dunia] selama 90 menit lebih, Anda memiliki nilai tambah.  Jangan cuma sorak-sorak fanatik doang.

 

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.