Beberapa waktu yang lalu atau tepatnya tanggal 16 Mei 2014 sepakbola nasional dikejutkan dengan meninggalnya seorang pemain Divisi Utama Liga Indonesia asal Persiraja Banda Aceh. Pemain tersebut bernama Akli Fairuz dan meninggalnya disebabkan oleh sebuah tragedi yang seharusnya tak terjadi di lapangan sepakbola.

Akli-Fairuz 5

Akli Fairuz saat diterjang Agus Rohman

Semuanya berawal saat Pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia antara Persiraja Banda Aceh melawan PSAP Sigli. Saat itu Akli Fairus memasuki kotak penalti hendak menyongsong bola muntah akibat tendangan keras pemain Persiraja lain dari luar kotak penalti. Kiper PSAP Sigli Agus Rahman yang tak dapat mengantisipasi bola keras tersebut kemudian maju berebut bola dengan Akli, akan tetapi akli sudah lebih dahulu menendang bola tersebut ke arah gawang. Kiper Agus Rahman yang dalam posisi terlambat tersebut mengarahkan kakinya ke arah akli sehingga saat berbenturan kaki Agus Rahman mendarat di perut Akli. Hal tersebut langsung membuat Akli meringis kesakitan di lapangan dan segera ditangani tim medis. Akan tetapi tim medis tidak langsung membawa Akli ke rumah sakit melainkan mengistirahatkannya di pinggir lapangan sampai pertandingan selesai baru si Akli dibawa ke rumah sakit.

Selama enam hari Akli dirawat di rumah sakit Zainal Abidin dan para dokter berusaha memberikan layanan terbaik mereka. Tetapi tetap saja organ dalam Akli sudah terlanjur mengalami pendarahan berat dan sekitar pukul 09.30 WIB pada hari jumat 16 Mei 2014 Akli menghembuskan nafas terakhirnya.

akli 1

akli 2

akli 3

Kejadian tersebut bukanlah hal yang pertama, kejadian serupa juga pernah terjadi sekitar tahun 2009 lalu. Saat itu laga antara PKT Bontang melawan Persela Lamongan di Stadion Mulawarman 7 Maret 2009, Pemain PKT Bontang Jumadi Abdi diterjang di bagian perut oleh tendangan keras Deny Tarkas pemain Persela Lamongan. Jumadi langsung tak sadarkan diri kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi berselang seminggu tepatnya 15 Maret 2009 Jumadi Abdi menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka sobek di bagian usus halus Jumadi, yang mengakibatkan kotoran hasil pencernaan makanan yang tersimpan di usus halus bocor keluar dan meracuni seluruh organ dalam tubuhnya, liver berhenti berfungsi dan jaringan darah lumpuh total.

9.Jumadi abdi 1

Jumadi Abdi terkapar

Kejadian-kejadian ini secara langsung mencoreng wajah persepakbolaan Indonesia yang lemah dalam menjamin keselamatan pemain sepakbola saat bertanding. Media asing banyak memberitakan hal ini dan mencela semua kejadian tersebut. Semua pelaku sepakbola tanah air harus berbenah baik itu PSSI, Manajemen Tim, Pemain, Wasit, Penonton, Fans semuanya harus memikirkan jalan keluar terbaik untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di kemudian hari.

Hal paling penting ketika seorang pemain sepak bola berada di lapangan adalah keselamatan pemain tersebut. Dia akan memasuki lapangan dengan sehat dan mengakhiri pertandingan dengan sehat juga. Benturan fisik pasti terjadi, tetapi benturan fisik tersebut juga harus terkontrol. Setiap tim diharapkan dapat menerapkan permainan bersih dan aman, meskipun saat bertanding tempo permainan tinggi dan keras. Segala jenis tekel yang dapat membahayakan keselamatan jiwa pemain hendaknya ditindak tegas oleh wasit, PSSI, dan aparat keamanan. Jika terbukti ada tekel yang disengaja, atau tekel yang tak beraturan sehingga membahayakan jiwa pemain lain, maka pemain yang melakukan hal tersebut sebaiknya langsung dicabut hak bermainnya di segala jenis Liga Profesional, kemudian segera di proses secara hukum.

Setiap pelatih hendaknya mengajarkan setiap pemainnya untuk melakukan tekel dengan aman, gerakan-gerakan mengambil bola juga hendaknya dilatih intensif agar setiap pemain dapat menerapkannya di lapangan. Kontrol emosi juga terus dilatih dan diingatkan agar ketika bertanding pemain dapat bersikap wajar.

Setiap pemain hendaknya juga meningkatkan kesadaran bahwa ketika bermain sepak bola hal terpenting yang harus dilakukan adalah ‘Memanusiakan Manusia’. Lawan yang kita hadapi di lapangan bukanlah hewan atau makhluk asing, mereka adalah manusia yang sama seperti kita, jadi “Lakukanlah segala sesuatu kepada lawan kita, seperti yang kita inginkan mereka juga lakukan kepada kita!”. Kalau kita tidak ingin lawan menekel kita dengan sembarangan, maka jangan lakukan hal tersebut kepada mereka. Jika kita tidak ingin kaki lawan menerjang perut kita, maka jangan lakukan hal tersebut juga kepada lawan kita. Jika kita tidak ingin lawan menyikut kita saat duel udara, maka jangan lakukan hal tersebut juga kepada lawan kita.

‘Fair Play’ bukan sekedar slogan FIFA agar terlihat keren, tetapi Fair Play adalah jiwa dari sepakbola itu sendiri. Keindahan sepakbola itu muncul dari sikap fair yang ditunjukan setiap tim ataupun setiap pemain sepakbola di dalam dan di luar lapangan. ‘Respect’ adalah nilai yang harus dimiliki setiap individu dalam sepakbola entah dia pengurus FIFA atau PSSI, entah dia pelatih, pemain, fans dan lainnya tetapi sikap respect menjadi penting untuk dilakukan terus-menerus agar dapat memanusiakan manusia. Persepakbolaan Indonesia sedang terus berproses untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. Kita tidak ingin bangsa lain terus mengolok-olok sikap brutal, kasar, tidak adil, dan tidak menghormati manusia yang terjadi di persepakbolaan kita. Sepakbola indonesia harus lebih ditata agar dapat mencapai atmosfer yang baik dan hal itu juga yang akan berdampak pada prestasi tim nasional kita di kemudian hari. Ingin Tim Nasional Indonesia masuk Piala Dunia? Kalau ingin maka kita semua harus berbenah dari hal-hal kecil seperti ‘memanusiakan pemain sepakbola saat berada di dalam dan luar lapangan’. Maju terus sepakbola Indonesia!

 ≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.