Wayne-Rooney-Man-UtdKetika ditanyakan kepada Anda, “Makna hidup ini?”  Bagaimana menjawabnya?  Di dalam menjawabnya, Anda perhatikan bahwa nantinya jawaban itu minimal akan tergolongkan dalam ke-3 golongan.  Hidup ini bisa mengenai siapa, apa, atau berapa.  Mari kita gali satu per satu.

Dimulai dengan hidup mengenai apa.  Ini adalah jawaban umum, bahwa hidup ini adalah mengenai apa; profesi, prestasi, uang, atau pencapaian.  Semua itu berbicara mengenai apa.  Jika hidup mengenai apa, maka kita akan memuja kerja dan kompensasinya. Jika hidup ini memang mengenai apa, di saat yang sama kita akan masuk ke dalam pemaknaan hidup yang kedua, yaitu hidup ini adalah mengenai berapa.

Apa dan berapa saling berkaitan.  Berapa adalah dampak dari apa yang kita lakukan.  Ini berkaitan dengan upah atau kompensasi.  Rumusannya adalah: saya melakukan apa dan dapat berapa.  Ini adalah standar manusia di dalam bekerja, bukan?

Suatu kali Wayne Rooney dicemooh oleh pendukungnya sendiri ketika alasan di balik ngambeknya Rooney untuk hengkang dari Manchester United, ternyata adalah masalah berapa [uang].  Walau beberapa kalangan melihat bahwa ini bukan dari Rooney sendiri namun juga agennya yang konon terkenal serakah.  Tak lama terwujudlah satu deal antara Rooney dan pihak manajemen MU, bahwa keberadaan Rooney akhirnya ditentukan oleh berapa; kira-kira 3,5 M per pekan!  Suatu jumlah yang menggiurkan dan membuka pintu cemburu pada beberapa rekannya.  Karena nyatanya Rooney bukan apa-apa dan pula bukan siapa-siapa tanpa rekan-rekan kerjanya.

Selayaknya siapa pun perlu melihat Rooney sebagai siapa tanpa embel-embel apa dan berapa.  Suatu pemahaman yang seharusnya sejak awal disadari oleh Rooney sendiri.  Ternyata manusia yang dicipta sebagai imago Dei [memiliki citra Tuhan di dalam dirinya], lebih dikuasai oleh apa.  Padahal, apa derajatnya lebih rendah dari siapa.  Karena apa keluar dari siapa, dan yang lebih rendah dari apa adalah: berapa.

Mengapa?  Karena berapa adalah suatu nilai yang dibuat oleh siapa untuk mengukur nilai dari apa.  Uang, misalnya.  Bukankah manusia yang menciptakan alat tukar menukar itu?  Bukankah uang kertas itu terbuat dari kayu yang diolah menjadi kertas? Lalu kertas-kertas mentah itu dicetak dan diberi nilai nominal oleh manusia sendiri, dan manusia itu sendiri juga yang mengategorikan nilai-nilai nominal itu.  Ada yang bernilai ribuan, puluhan ribu, atau ratus ribu.

Lalu, jika manusia si siapa itu dikendalikan oleh berapa, berarti kita menjadi budak dari apa.  Ini berarti siapa kita ditentukan oleh berapa yang kita miliki, kita raih.  Sebenarnya ini adalah penghinaan pada karya unik Tuhan yang mencipta manusia lebih tinggi dari spesies lainnya.  Bahkan nilai seekor binatang saja tidak sekadar berdasarkan berapa.  Berapa nilai nominal kesetiaan seekor anjing yang menggoyangkan ekornya dengan antusias ketika sang tuan pulang ke rumah?

Itulah sebabnya mengapa ketika seseorang atau sebuah tim belum punya prestasi, atau pencapaiannya rata-rata langsung dihujani bonus berapa, sebenarnya itu adalah sebuah penghinaan.  Kejahatan, bahkan kekejian, lebih keji daripada ledekan penonton,  atau lemparan botol plastik ke tengah lapangan.  Mengapa?  Karena itu adalah penghinaan dan perendahan terhadap martabat manusia.

Fans dapat membuat Anda terkenal. Sebuah kontrak dapat membuat Anda kaya. Pers dapat membuat Anda  seorang super star. Tetapi hanya cinta yang dapat membuat Anda menjadi seorang pemain ~ Kevin Hartwyk, pesepak bola pelajar Amerika

 

 

wayne-rooney-pic-profile-history-goals-man-utd

Memikat siapa dengan apa, dalam nilai berapa. Bukan saja penghinaan, tetapi mematikan dan membunuh manusia.  Tidak perlu sebuah pistol untuk mematikan manusia.  Iming-iming duit yang tidak pada tempatnya akan membunuh manusia; membunuh spirit juangnya, membunuh kemurniannya dalam  pengejaran prestasi.  Jika manusia bergairah untuk iming-iming benda mati, itu berarti ia sudah mati walaupun masih bernafas. Karena pusat gairahnya adalah benda mati.

Mengapa demikian?  Sebenarnya apa yang kita lakukan bukan sekadar kerja [work], tetapi lebih tepatnya adalah melayani [serve].  Work adalah tentang apa; mengelola benda mati untuk menghasilkan berapa banyak keuntungan.  Jika sepak bola adalah mengenai work, maka pantas saja piala, bonus atau prestasi menjadi tujuan utama.

Tetapi hidup ini sesungguhnya adalah mengenai siapa, maka wujud aktivitas kita adalah serve.  Sepak bola adalah mengenai serve; melayani rekan tim, pelatih, fans.  Bahkan walau saling berkompetisi, kita juga melayani tim lawan untuk membentuk kompetisi yang beradab.  Karena pada dasarnya, kompetisi itu baik. Upaya dua tim yang berusaha maksimal di dalam kompetisi, adalah teladan bagi peradaban manusia.

Setelah pada tahun 1990 membawa Uruguay ke 16 besar Piala Dunia 1990, seorang pelatih bernama Oscar Washington Tabarez kembali ditugaskan untuk menangani timnas Uruguay di tahun 2006.  Kala itu dampak yang diberikan pelatih kelahiran Montevideo itu luar biasa yaitu dengan berhasil menembus 4 besar di Piala Dunia 2010 setelah 40 tahun tidak pernah mencapainya. Namun dampak Tabarez lebih dari itu.

Sebagai negara yang mengalami permasalahan ekonomi seperti inflasi, pengangguran massal, menurunnya standar hidup, berhentinya kegiatan sekolah hingga kerusuhan, masyarakat Uruguay menjadi pribadi yang lebih mementingkan ekonomi termasuk para pemain tim nasional.  Banyak pemain yang pergi ke Eropa dengan orientasi semata untuk cari duit.  Namun Tabarez yang pernah membawa timnas Uruguay bertanding di Indonesia tahun 2010 itu, mereparasi mentalitas timnas untuk memiliki semangat kebersamaan di dalam satu tim karena banyak pemain Uruguay saat itu mulai lupa dengan nama besar mereka sebagai negara yang pertama kali menjuarai Piala Dunia 1930.  Ternyata, apa yang disuntikkan Tabarez adalah mengukuhkan timnya sebagai siapa, dan bukan menjanjikan berapa, walau di saat yang sama Tabarez tahu para pemainnya diincar oleh banyak klub kaya. Hasilnya, pada 2011 mereka memeroleh Copa America.

Fans perlu diajar apa arti bersalaman di akhir pertandingan atau bertukar kaus sebagai sebuah wujud penghargaan walau saling berlawanan. Peradaban manusia perlu belajar apa itu bekerja secara maksimal untuk memeroleh prestasi dari lapangan hijau.

Kadang saya berkata pada agen sepak bola, ‘Perbedaan antara kamu dan saya adalah, jika suatu saat tidak ada lagi uang pada sepak bola, saya akan tetap di sini, tetapi kamu tidak’. Untuk membangun tim besar semua bukan tentang uang. Pertama, kamu harus menciptakan spirit dan kebersamaan di dalam tim dan itu tidak mudah ~ Arsene Wenger

 

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.