Special Olympics, selaku kejuaraan untuk masyarakat dengan ketidakmampuan intelektual, mengajarkan kepada bangsa dan dunia bahwa tidak ada kendala fisik maupun mental yang dapat menghalangi kekuatan jiwa manusia.”

Barack Obama

Pada Special Olympics 2011 di Athena, Yunani, tim Olimpiade tunagrahita Indonesia berhasil merebut 15 emas, 13 perak, dan 11 perunggu. Sebuah pencapaian yang mengharumkan nama bangsa dari sekelompok manusia yang dianggap “terbelakang.” Jika kita mau berkaca pada diri sendiri, pertanyaannya adalah: Siapakah yang sebenarnya terbelakang? Fisik boleh “cacat”, tetapi jiwa mereka adalah pemenang sejati. Mereka mengalami keterbelakangan mental? Siapa bilang? Mental kita yang dianggap “normal” inilah yang sering kali terbelakang sehingga tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Mereka adalah insan-insan yang berani hidup, bahkan berprestasi. Maka, tidak mengherankan jika presiden Barack Obama menyatakan hal tersebut di atas. Baginya, selama hidup, manusia memiliki kekuatan jiwa sehingga keterbatasan yang sebenarnya menjadi penghambat malah tertembus oleh daya juang yang tinggi.

Sebagai contoh, Stephanie Handoyo, yang memeroleh satu emas dari cabang renang, adalah anak yang secara mental dianggap “terbelakang” oleh sebagian masyarakat. Namun, ia tercatat dalam rekor MURI pada 2009 setelah mencatatkan rekor memainkan 23 lagu dengan piano secara sempurna. Namun, belakangan tangan kirinya sulit digerakkan karena penyakit saraf yang dideritanya. Giring, vokalis Nidji bahkan terkagum-kagum dengan kemampuan gadis belia yang dapat memainkan berbagai jenis musik, mulai dari klasik hingga “Laskar Pelangi” karya Nidji. Dalam kejuaraan Singapore National Swimming Championship, Fani, demikian ia biasa dipanggil, telah berkali-kali mendapat juara dan beberapa kali menggelar resital piano, baik di dalam maupun di luar negeri. Demikian pula Christian Husen Sitompul, anak dari pengacara dan politisi kondang, Ruhut Sitompul. Ia memperoleh emas dari cabang renang di ajang yang sama. Sebelumnya, ia tampil sebagai juara renang Pekan Olahraga Daerah (Porda) DKI Jakarta yang diselenggarakan SpecialOlympics Indonesia (SOIna).

Special Olympics adalah organisasi nonprofit yang resmi berdiri pada 1968 dari visi saudara perempuan John F. Kennedy, yaitu Eunice Kennedy-Shriver (1921–2009). Visi

ini berawal dari Summer Camp di kediaman Eunice pada 1962, tepatnya ketika anak-anak dan orang dewasa yang mengalami tunagrahita diundang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka dalam beragam kegiatan olahraga. Selama lebih dari 40 tahun, kegiatan ini menginspirasi dunia bahwa manusia memang spesies yang spesial dibandingkan spesies lainnya, bahkan dalam kondisi yang terbatas pun manusia mampu memaksimalkan kemampuannya.

paralympics

Dalam perkembangannya, ajang ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi perdamaian dunia, pendorong semangat dan perubahan perilaku, tetapi juga mendorong upaya penelitian, bahkan mendorong Special Olympics World Football Games yang didukung UEFA. Apa tujuannya? Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada para pemain untuk mengasah skill individu, melalui tes dan latihan teknik dasar sepak bola, seperti driblling, shooting, lari, dan teknik menendang. Berbeda dengan sepak bola umum, skor mereka tidak hanya ditentukan di lapangan, tetapi juga ujian dalam disiplin-disiplin latihan.

Di dalam ajang Kick It Out 2011, yang mengampanyekan kesetaraan dalam sepak bola di Inggris, tim Special Olympics Inggris mengadakan pertandingan lima lawan lima dalam UEFA ChampionsFestival. UEFA yang berpartner dengan Special Olympics Europe Euroasia (SOEE) mempromosikan kesempatan bagi pemain sepak bola dengan kebutuhan khusus ini untuk menunjukkan penampilan terbaiknya. Bahkan, dalam Kick It Out ini juga dikampanyekan unifikasi antara pemain dengan kebutuhan khusus dan pemain pada umumnya dalam menunjukkan profil yang lebih mantap. Ketika jeda, mereka dimotivasi dengan kata-kata inspiratif oleh duta UEFA Champions Festival, yaitu Graeme Le Saux, sang legenda Chelsea.

Jason Cornwell, football development manager Special Olympics Great Britain mengatakan bahwa “Ide acara ini adalah untuk menjembatani jurang antara sepak bola dengan kebutuhan khusus dan dasar-dasar sepak bola umum.” Ide ini didukung penuh oleh UEFA. Uniknya dalam festival tersebut, seremoni penyerahan penghargaan misalnya, meniru cara-cara seperti di ajang Piala Champions.

MnMagicTeamPhoto

Tim Sepakbola Penyandang Cacat Minesota Magic

Dari semua itu, kita tidak hanya melihat bagaimana para atlet berkebutuhan khusus berprestasi, tetapi juga melihat bagaimana berkuasanya Sang Pencipta yang “mempermalukan” kita yang dianggap “normal”—jika Dia berkehendak, insan selemah apa pun dapat menginspirasi dunia. Dengan prestasi demikian, mari kita lakukan sesuatu yang sudah lama kita lupakan sebagai manusia “normal” dalam geliat olah raga tanah air, yaitu malu dan instropeksi diri, karena mungkin mental kitalah yang sebenarnya “terbelakang.”

Sumber: Gheeto TW, GOL! (BIP, 2013)

New Year, New Changes!

Losing Weight? Saving Up? New Job? More Travel? Find it all here!
click here
ValueDealShopper.com

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.