wiel coerver 3

Dalam dunia sepak bola, Indonesia sebenarnya adalah negara yang beruntung, karena pernah dilatih oleh seorang pelopor pengembangan skill sepak bola di era sepak bola modern.  Yang lebih menguntungkan adalah, bahwa negeri ini adalah satu-satunya negara yang tim nasionalnya pernah ia latih.

Pada 1959–1965, ia melatih klub S.V.N di negaranya.  Dilanjutkan pada 1965–1966 ia melatih Rapid JC, lalu Sparta Rotterdam (1966-1969), N.E.C (1970-1973), lalu Feyenoord di Rotterdam.  Setelah itu sejak 1975-1976 ia menjadi pelatih timnas, sebelum pulang kampung kembali untuk melatih klub Go Ahead Eagles (1976-1977).  Klub yang terakhir disebut adalah sebuah klub yang membesarkan nama pemain naturalisasi, Diego Michels sejak bermain di tim muda hingga tim senior (2007-2011).

wiel coerver

Setelah membawa Feyenoord memenangi Piala UEFA 1974 ia hijrah ke Indonesia padahal saat itu begitu banyak tawaran dari klub-klub Eropa.  Ia mengatakan,”Masa depan persepak bolaan Indonesia menjadi tantangan buat saya,” demikian alasannya. Kurang dari setahun ia membawa timnas ke babak final kualifikasi Olimpiade 1976 dan hanya kalah adu penalti melawan Korea Utara di Senayan.  Setelah menjalani hanya satu tahun pertamanya di Indonesia, ia kemudian kembali lagi menjadi penasihat teknis SEA Games Jakarta 1979.

Apa yang sering ia lakukan di negeri ini?  Ketika kita kagum dengan gaya blusukan Indra Sjafri, ternyata sebagai orang asing beliau juga sering blusukan untuk mencari bakat-bakat muda.  Ia pernah menjadi penasihat teknis beberapa klub termasuk Niac Mitra dan Yanita Utama yang di bawah pengawasannya menjadi runner-up Piala ASEAN.  Terakhir pada tahun 2008 ia menerima undangan Madaniah Soccer Parent Association (MSPA).  Selama 33 tahun hingga wafatnya, ia pernah beberapa kali mengunjungi Indonesia.

wiel coerver 2

Wiel Coerver bersama anak-anak didiknya

Four Four Two edisi bahasa Indonesia (Juni 2011) mewawancarai Hendarto, pelatih veteran yang tahu persis kiprah pelatih ini karena sering blusukan bersamanya.  Ia mengatakan bahwa pelatih bule ini,”. . . senang berjalan kaki menelusuri kampung-kampung  dan jika bertemu anak-anak yang bermain sepak bola, ia akan mengajari gerakan-gerakan sepak bola.  Ia sangat menyukai anak-anak yang bermain sepak bola.”

Hendarto sendiri mengenal Coerver tahun 1975 di mana saat itu PSSI mengundang para pelatih untuk mengikuti penataran dari beliau.  Hendarto juga mengatakan, “Setiap setelah Maghrib, ia selalu mengajak saya jalan-jalan menelusuri perkampungan.”  Dan gaya blusukan itu dilakukannya di mana-mana seperti di Jakarta, Bogor, Lembang, Banda Aceh hingga Denpasar.  Walau sebenarnya bule ini sebenarnya menderita sakit jantung dan pernah dua kali dioperasi.

Tetapi ia juga menjadi kontroversi selama di Indonesia karena sikapnya yang keras.  Pengurus PSSI waktu itu pun pernah ia usir. Ia pernah melontarkan kata bahwa para pemain dan pelatih kita bermental “kacung” walau kalimat itu muncul karena ia tidak mengerti adat ketimuran.  Ia juga pernah bersitegang dengan wartawan.  Namun di sisi lain ia adalah pelatih yang rela pasang badan untuk memperjuangkan hak-hak para pemainnya.

Setelah tidak berkecimpung di klub  karena penyakit jantungnya, ia tidak tinggal diam dan masih terus terlibat dengan sepak bola. Dengan memerhatikan, menganalisa para pemain dunia seperti Pele atau Maradona, ia menyusun suatu metode dalam pelatihan skill pemain.  Hasilnya, ia menjadi pelopor untuk sebuah metode yang terkenal di seluruh dunia, di mana Alex Ferguson sampai harus memanggil Rene Meulensteen untuk datang ke Manchester di tahun 2000.  Mengapa? Karena pelatih asal Belanda yang saat itu sedang melatih klub Al Saad, Qatar dipesan khusus oleh Fergie untuk membentuk pemain baru mereka, Cristiano Ronaldo.  Dengan metode ini, kita bisa melihat keindahan gerakan Ronaldo, bukan?

coerver pyramid

Piramid Pelatihan Coerver

Metode baru ini akhirnya mendunia, dan membuat dunia menjulukinya sebagai Albert Einstein-nya sepak bola.  Arjen Robben, Robin van Persie, atau Nistlerooy adalah beberapa nama yang terbentuk melalui metodenya.

Namun pada 22 April 2011, Robin van Persie harus mengucapkan selamat jalan untuknya, “Beristirahatlah dalam damai Wiel Coerver.  Seorang legenda!”, ujarnya melalui twitter.  Ya, sang Einstein yang suka blusukan itu adalah Wiel Coerver (3 Desember 1924 – 22 April 2011) dengan metodenya yang sudah mendunia, Coerver Method.  Persie juga mengatakan, “Saya dan banyak anak-anak senang menyaksikan video Wiel Coerver saat masih kanak-kanak.  Terima kasih karena telah membagi semua pengetahuan Anda kepada dunia.”

wiel coerver 4

Wiel Coerver saat mengunjungi Indonesia di hari tua-nya

Ketika Coerver wafat, pengurus sepak bola di negeri di mana menjadi satu-satunya negara yang tim nasionalnya pernah dilatih oleh Coerver, ternyata tidak tahu menahu.  Apa kata Risdianto, penyerang timnas kita tahun 1976? “Itu menunjukkan  bahwa pengurus sepak bola sekarang tidak mengetahui Coerver. . . Orang harus mengetahui sejarah.  Pengurus yang sekarang tidak mengetahui itu.  Saya sangat kecewa karena tidak ada yang menghargainya.”  Metodenya dipelajari di seluruh dunia, membentuk skill Cristiano Ronaldo, tetapi terlambat dipahami di negeri ini, bahkan kematiannya demikian sepi.  Padahal negeri ini adalah satu-satunya negara asing di mana ia pernah blusukan.

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.