indra fix

Ketika timnas Indonesia U-19 menjuarai turnamen AFF di tahun 2013, sontak rakyat Indonesia yang haus gelar kejuaraan sepak bola selama 22 tahun kaget.  Harapan langsung mencuat, bahwa ternyata Indonesia tidak semuram yang dipikirkan.

Sosok yang paling menjadi sorotan, selain para pemain adalah sosok sang pelatih, Indra Sjafri.  Timbul pertanyaan,”Apa sih yang dilakukan Indra Sjafri, sehingga dapat membuat tim tangguh seperti itu?”  Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Indra Sjafri.  Dalam bukunya “Garuda Muda Garuda Jaya,” Rama Syahreza  (REXA Pustaka, 2013) mencatat beberapa kunci sukses Indra Sjafri.

Yang pertama adalah blusukan.  Istilah yang melekat pada mantan walikota Solo dan Gubernur Jakarta, Jokowi ini ternyata sudah dilakukan Indra, dua tahun sebelum timnas U-19 memeroleh prestasi puncak.  Hal ini terjadi ketika Sjfari gagal membawa timnas U 16 yang hanya finish di peringkat ketiga klasemen.  Ini terjadi karena saat itu ia tidak memilih pemainnya sendiri karena sudah disodori nama-nama pemain tanpa pengawasan langsung Sjafri sebelumnya.  Lalu ia bertekad mencari sendiri pemain-pemain muda dengan modal blusukan.  Ia berkeliling hingga ke daerah-daerah yang mungkin baru kita dengar, seperti Muara Teweh di Kalimantan Tengah, yang harus melampaui jalan darat selama 10 jam dari Banjarmasin.  Ia juga ke NTT, ke daerah terpencil yaitu Alor, dan di sana ia berjumpa dengan Yabes Malvani.  Bahkan tak segan ia mengeluarkan dana pribadi saat uang belum turun dari PSSI.  Jika banyak pelatih sebelumnya hanya mengambil pemain-pemain yang sering muncul di media massa dan klub besar, Sjafri lebih memilih untuk blusukan, dan berhasil.  Melibatkan tukang ojek untuk blusukan dan mencari informasi.

indra 4

Lalu apakah sekadar blusukan?  Ternyata tidak.  Di daerah, ia selalu membangun semangat para pelaku sepak bola dengan cara berdialog.  Ia juga melakukan coaching clinic, baru kemudian melakukan pencarian bakat (scouting).  Yang ia nilai dalam scouting adalah skill bermain, kemampuan taktik, kecerdasan bermain dan mental, serta jiwa nasionalis yang kuat.  Kalau biasanya pelatih lain memilih pemain yang diinginkan hanya dengan mengamati permainan mereka di sebuah turnamen atau kejuaraan, ia langsung mendatangi tempat di mana pemain itu bergabung dengan klub atau sekolah sepak bola, bahkan mengetahui latarbelakang keluarganya.

Kepada anak-anak asuhnya, apakah ada resep khusus?  Ternyata tidak.  Ia hanya menginginkan mereka dapat mengumpan dengan tepat, mencetak gol sebanyak-banyaknya dan jangan sampai kebobolan.  Tidak perlu, misalnya, meminta mereka bermain dengan meniru tiki taka a la Barcelona karena itu justru mempersulit timnya sendiri.  Dari data High Performance Unit, ternyata selama piala AFF U-19 2013, mereka melepaskan 3.453 umpan dengan 2.775 di antaranya menjangkau target, jadi akurasinya 79%.

Namun, seperti pepatah bahwa kesuksesan tidak datang sendirian, demikian pula Indra Sjafri.  Di balik kepemimpinannya ia memiliki tim yang mendukung kerjanya.  Ada beberapa orang kunci yang membantunya.  Pertama adalah pelatih mental, yang ia percayakan kepada Guntur Cahyo Utomo, alumni S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada, bersama rekannya Hysa Ardianto.  Salah satu hasil pembentukan mental mereka adalah bagaimana saat mereka adu penalti, para pemain walau memiliki beban yang besar mampu mengatasinya.

indra 2

Sjafri juga memiliki orang kepercayaan yang menjadi analis statistik dan permainan lawan, Rudi Eka Priambada.  Ia yang bertanggungjawab dalam mencatat High Performance Unit (HPU), yang merekam pemain timnas maupun calon lawan.  Ia membuat video dan melakukan analisis statistik, membandingkan strategi timnas dengan tim lawan, lalu dibawa dalam rapat bersama tim pelatih. Sebelumnya, Rudi sudah dipercaya Sjafri saat menjadi tactical analysis saat turnamen di Hongkong U-17 tahun 2012.  Walau awalnya harus merogoh koceknya sendiri untuk membeli perlengkapan kerjanya, lulusan termuda program beasiswa AFC Project Future Coach 2009 di Dortmund, Jerman ini bersedia bersama Sjafri membangun prestasi sepak bola Indonesia.

Lalu, mengapa fisik para pemain sangat prima?  Nur Saelan adalah orang yang berada di balik kebugaran para pemain.  Ia sudah berpengalaman dalam 26 tahun melatih fisik pemain dan memiliki program yang menarik. Ia menerapkan fun conditioning agar suasana latihan menyenangkan.  Saelan yang sudah mendukung Sjafri sejak 2011 banyak membantu kebugaran pemain.

Dan yang tak kalah penting adalah peran kitman, mereka yang menyiapkan perlengkapan pemain. Walau kelihatan sepele, namun peran Muhni dan Ade Ali sangat penting.

Keberhasilan selalu merupakan kerja tim yang memiliki visi yang sama, rela berkorban tak bersandar pada dana, dan menikmati kerja keras bersama-sama.

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.