Chinese-FootballLaga persahabatan atau laga uji coba sebenarnya biasa saja dilakukan.  Semua negara peserta Euro 2012 melakukannya.  Namun pertanyaannya, mengapa juara dunia sekaligus juara bertahan Spanyol memilih Korea Selatan dan terakhir dengan Cina sebagai lawan tanding?  Secara level, sebenarnya terlalu jauh untuk tim sekelas Spanyol.  Ditambah lagi, mereka tidak termasuk Eropa.  Tentu bukan tanpa alasan kedua negara itu dijadikan lawan tanding bagi Spanyol.  Jawabannya hanya satu: kualitas.  Di benua Asia, selain Jepang, Korea Selatan dan Cina terus berbenah untuk menjadi kekuatan besar sepak bola dunia.

Mengapa pula mereka memiliki kualitas sedemikian sehingga dinilai pantas untuk menjadi lawan tanding tim sebesar Spanyol?  Jawabannya juga hanya satu: program jangka panjang.  Inilah yang dipikirkan negara-negara maju, bahwa sepak bola yang baik bukanlah tim yang dibesut dalam beberapa bulan, kemudian “dicangkokkan” ke dalam sebuah tim. Kemajuan dalam sepak bola terjadi di dalam program jangka panjang.  Secara khusus kita akan lihat apa yang terjadi di Cina.  Setelah memiliki banyak atlet-atlet juara di dalam berbagai cabang olah raga seperti renang, loncat indah, atletik, dan tentu saja bulutangkis yang baru saja mengawinkan Piala Thomas dan Uber, mereka merasa kehilangan satu cabang yang belum berkembang pesat di sana, yaitu sepak bola.

Untuk mengembangkan sepak bola, Cina memulainya dengan pemahaman jangka panjang. vBukan kebetulan jika dalam etos berpikir, para pemikir di Cina memiliki Long Term Orientation (Orientasi Jangka Panjang) yang kuat.  Xiang Bin, pada China.org.cn tahun 2011 yang lalu menulis bahwa otoritas olah raga di Cina berniat untuk membangun kembali sepak bola Cina. Karena selama ini Cina telah porak poranda karena kekerasan, korupsi, pencurian umur yang jamak terjadi di pertandingan domestik.

Keprihatinan itu membawa mereka berkunjung ke Jepang untuk mempelajari kesuksesan Jepang dalam membangun sepak bola.  Kesimpulannya, mereka merancang 3 kunci pertumbuhan sepak bola Cina.  Pertama, membangun kelompok pemimpin, alias organisasi yang tugasnya adalah untuk mendukung pertumbuhan sepak bola Cina.  Pejabat pada Komisi Pembangunan dan Reformasi, Menteri Keuangan, bank-bank di Cina dan Chinese Football Association (CFA) bahu membahu membangun sepak bola.

Kedua, mempromosikan dan mempublikasikan sepak bola di China Central Television (CCTV).  Sebelumnya pihak berwenang pada CCTV menghentikan penyiaran Chinese Super League (CSL) pada 2010 karena skandal korupsi yang memberi citra buruk pada sepak bola Cina.  Situasi ini berubah pada 2012, di mana mereka kembali menyiarkan liga domestik dan timnas mereka.  Ketiga, membangun “soccer university” dan tempat pelatihan yang rencana akan dibangun di kota Qingdao, propinsi Shandong.

Sepak bola di Cina sudah lama tenggelam. Di akhir 2010 hanya ada 7000 pemain U-18 yang terdaftar di asosiasi sepak bola.  Hal ini tentu jauh ketinggalan bila dibanding dengan negara kecil seperti Jepang yang memiliki 500.000 pemain U-18.  Kini pertumbuhan sepak bola Cina menjadi prioritas utama. CFA serius mengkampanyekan perlawanan terhadap korupsi, mengembangkan pemain muda, melatih para wasit dan mengundang pelatih kelas dunia untuk membantu timnas pria maupun wanita.

Walau masih dalam fase pertumbuhan, kita dapat menyimak bahwa perkembangan sepak bola Cina harus cermat diperhitungkan.  Lihat saja bagaimana mereka membuat tim juara seperti Spanyol kerepotan dan hanya meraih kemenangan dengan skor tipis 1-0.

 

 

≡ Gambar dari berbagai sumber

Comments

comments

Tags

 

3 Comments

  1. Sepak bola Indonesia harus berbenah untuk saat ini harus berpikir "Jangka Panjang" dalam pembinaannya seperti yg dilakukan oleh CHINA.

    • Gheeto T. W. Gheeto T. W. says:

      betul alif, pembinaan sepakbola di cina sudah ditata dengan sangat rapi & serius, mulai dari usia muda mereka sudah mempersiapkan pemain2 mereka. bukan tidak mungkin mereka akan menjadi kekuatan baru di dunia sepakbola.

Leave a Reply to Gheeto T. W.

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.