jerman
Semua negara pernah megalami kemunduran dalam sepak bola, bahkan termasuk negara besar seperti Jerman dan Inggris.  Pada Euro 2000, kedua negara ini mengalami kegagalan yang mengejutkan untuk negara di mana sepak bola sudah menjadi akar budaya selama ratusan tahun.
Namun kemudian, ketika di tahun 2013 dunia dikagumkan akan pertemuan dua klub asal Jerman di ajang Champions 2013, sedangkan klub Inggris mengalami penurunan, orang mulai bertanya, mengapa Jerman, 13 tahun kemudian menjadi superior dibanding negara nenek moyang sepak bola dunia, yaitu Inggris?  Rahasianya, klasik, pembinaan usia dini!
      Yang Inggris lakukan saat itu adalah mengganti manajernya, namun tidak mengembangkan kemampuan pemain, atau pengetahuan taktik kepada pemain.  Namun apa yang dilakukan asosiasi sepak bola Jerman adalah menginvestasikan daya dan dana untuk pembinaan pemain muda, lalu, mirip seperti apa yang dilakukan coach Timo Scheunemann di Indonesia yang membuat Kurikulum Sepak Bola Indonesia, mereka membuat semacam pedoman dasar bagi timnas Jerman.  Mereka sungguh mengupayakan pembinaan pemain muda dan menghasilkan pemain-pemain berkualitas.
      Apakah mereka berhasil?  Pada Euro 2009 untuk U 21, sudah mulai terlihat dampaknya, bahwa Jerman memiliki talenta muda yang menjanjikan dan sempat mengalahkan Inggris 4-0 dan terus mengembangkannya hingga tahun 2000.  Walau Inggris juga berkembang, namun pada Piala Dunia 2010, pemain muda Jerman lebih unggul dan menghasilkan banyak talenta muda yang dibina serius sejak 10 tahun sebelumnya, dan yang paling menonjol adalah Mesut Ozil.
      Salah satu klub yang sukses mengembangkan pemain muda adalah Borussia Dortmund.  Alih-alih membeli pemain asing, mereka lebih memilih untuk memakai pemain binaan.  Terlebih, kondisi ekonomi Jerman di tahun 2000-an sedang anjlok, sehingga membina pemain muda hasil didikan akademi mereka jauh lebih murah daripada membeli pemain asing.  Muncullah nama-nama seperti Nuri Sahin, Mario Gotze dan Marco Reus.  Dortmund melakukan pencampuran pemain bintang muda dan pemain-pemain muda lainnya sehingga menghasilkan tim dengan daya serang yang luar biasa. Selain itu, mereka melakukan perencanaan dan kerjasama antara federasi sepak bola dan klub-klub agar melakukan regenerasi.  Hasilnya adalah keuntungan di kedua belah pihak; klub dan tim nasional, keduanya mendapatkan talenta-talenta muda yang matang dalam bermain.
soccer-volunteer-grafenwoehr
          Apakah sampai di situ saja?  Tidak.  Federasi sepak bola Jerman melakukan upaya sangat serius untuk membentuk pemain-pemain muda mereka. Pertama, mereka membangun fasilitas-fasilitas kepelatihan.  Mereka membangun 121 titik pusat pelatihan dan pencarian bakat di seluruh Jerman untuk membantu pemain usia 10-17 tahun dengan latihan teknik yang benar.  Setiap pusat pelatihan mempekerjakan 2 pelatih penuh waktu.
       Kedua, saat merekrut pemain, mereka mengharuskan 36 klub profesional di Bundesliga dan Bundesliga 2 untuk membangun akademi pemain muda.  Pada musim 2003/4, liga Jerman memiliki 44% pemain asing, dan mereka merasa hal itu harus diubah.  Maka kemudian jatah pemain asing hanya 38% saja yang berarti Bundesliga memainkan 62% para pemain dalam negeri setiap minggunya dan secara tidak langsung sedang mempersiapkan diri dan mereka untuk siap bermain di tim nasional.  Di Inggris, angka ini justru kebalikannya.
        Ketiga, mereka mendesak semua akademi yang baru dibentuk itu untuk setidaknya menyiapkan 12 pemain yang memenuhi syarat untuk bermain di timnas Jerman, sehingga mendesak akademi dan kemudian klub untuk memberi pengalaman kepada talenta muda mereka.  Di sisi lain, Inggris menghabiskan sekira 90 juta poundsterling untuk melatih 10.000 anak kisaran usia 16 tahun, tetapi hanya 1% saja yang bergabung dengan akademi di Inggris pada usia 9 tahun, lalu menjadi pemain profesional.  Ternyata, uang bukan masalah utamanya.
        Keempat, mengenai taktik permainan, mereka mulai menggnuakan taktik-taktik yang berbeda, tidak terpaku hanya kepada gaya bermain yang sudah menjadi tradisi.  Di era Klinnsman, Jerman memainkan sistem formasi 4-4-2.  Namun di bawah asuhan Joachim Low, menggunakan formasi 4-2-3-1 yang menyesuaikan kemampuan para pemain dan pembelajaran dari formasi-formasi moderen.  Terus berkembang dan beradaptasi dalam taktik.
       Bagaimana hasilnya?  Ternyata bukan hanya berdampak di Jerman sendiri, namun juga di negara lain, seperti Afrika Selatan.  Dari 23 pemain timnas Afrika Selatan, 19-nya berasal dari Akademi Bundesliga dan 4 pemain lainnya berasal dari Akademi Bundesliga 2.  Lalu kita bisa melihat pemain muda yang terus berkembang seperti Gotze, Reus, dan André Schurrle yang sudah matang di bawah usia 24 tahun.  Bahkan Mats Hummels

dan Jerome Boateng sudah bermain matang di bawah usia 23 tahun.

        Apakah hanya Jerman yang melakukannya?  Ternyata tidak, karena hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang lazim di dalam perkembangan sepak bola. Spanyol dan Barcelona, sudah mengembangkan pembinaan kepada para pelatih dan pemain, melakukan penyebaran pusat pelatihan di seluruh negeri, dan mengembangkan standarisasi.  Maka tidak heran jika selama kurun waktu sekitar 20 tahun, sepak bola dengan standarisasi yang tinggi telah menjadi sebuah budaya.  Standarisasi tinggi ini telah menghasilkan tim nasional yang tangguh karena pembudayaan itu dikerjakan melalui pelatihan yang sangat teliti.  Memang benar, good things take times.

Comments

comments

Tags

 

1 Comment

    Leave a Comment

     




     

     
     
    Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.