Confidence biasanya langsung diterjemahkan sebagai ”percaya diri.”  Dulu saya pun menganggapnya demikian.  Ups, ternyata tidak selalu demikian.  Confidence sebenarnya berasal dari bahasa Latin, yang terdiri dari 2 suku kata yaitu, con dan fide.  Con memiliki arti “berkaitan dengan,” seperti lem yang melekatkan.  Sedangkan fide  [faith], secara sederhana adalah ”percaya atau  iman.”  Jadi, confidence adalah sesuatu yang ”Berkaitan dengan kepercayaan atau iman.”   Apa yang kita percaya, itulah yang akan mendorong dan menggerakkan kita.  Maka, jika kepercayaan kita kepada self, jadilah self confidence atau percaya [kepada] diri.  Tetapi confidence tidak selalu memiliki arti  ”percaya diri.”

Oleh sebab itu, seorang pemain yang baik bukan hanya melulu berurusan dengan dirinya sendiri.  Ia harus memiliki multi  fide.  Misalnya fide kepada pelatih, rekan-rekan satu tim, kejujuran wasit dan hakim garis, juga kepada kemampuan diri sendiri.  Self confidence tidak cukup, karena keyakinan sebesar apa pun jika kita curiga kepada instruksi pelatih atau rekan satu tim, maka pertandingan akan kacau.  Selain itu, jika kita hanya mengandalkan self confidence saja, maka kita sedang tidak realistis.  Karena pertandingan adalah kerja tim, bukan kerja self.  Maka, self ini perlu mengupayakan komunikasi di antara pemain, relasi dengan pelatih, agar tidak bekerja sendirian.

Sadar atau tidak, sebuah pertandingan sepak bola yang dapat dilihat oleh mata itu ternyata didorong oleh fide yang tidak terlihat oleh mata!  Uniknya adalah: perilaku kita dapat merefleksikan ukuran  fide seperti apa yang kita miliki.  Misalnya kalau kita tidak punya kepercayaan kepada pelatih, mungkin bawaannya akan terus mengeritik keputusan pelatih.  Ketika kita tidak percaya kepada salah satu rekan tim, maka kemungkinan kita tidak akan memberikan operan kepadanya.

david-luiz-confidence

Dengan menempatkan confidence kita tidak tertuju kepada self, akan membuat seorang pemain, baik di lapangan hijau maupun lapangan kehidupan bermain dengan fair dan maksimal.  Kalau dipikir-pikir, mana mungkin kita menambatkan confidence kita pada diri yang  masih memiliki kelemahan dan keterbatasan ini?  Ibarat melempar jangkar kapal ke hamparan pasir, bukan pada batu karang yang kukuh.

Dengan meletakkan confidence kita pada sumber yang tepat, maka  fair play menjadi tujuan yang lebih utama, bukan sekedar skor kemenangan.  Apalagi kemenangan yang menghalalkan segala cara.

 

Apa yang Anda lihat itu lebih dari sekadar pelukan.  Itu rasa percaya ~ Ketika Jose Mourinho memeluk Frank Lampard

 
≡ Gambar dari berbagai sumber

 

Comments

comments

Tags

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 

 
 
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.